Pendidikan Inklusif di Buleleng Hadapi Tantangan Dukungan Orang Tua dan Guru
- 24 Mar 2026 18:53 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Pendidikan Inklusif
- Buleleng
- Orang Tua dan Guru
RRI.CO.ID, Singaraja — Implementasi pendidikan inklusif di Kabupaten Buleleng masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan tenaga pendidik hingga kurangnya dukungan dari orang tua siswa.
Praktisi pendidikan inklusif, Luh Winda Krisdayani, mengungkapkan bahwa salah satu kendala utama dalam pembelajaran anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah ketidakseimbangan antara pola pembelajaran di sekolah dan di rumah.
“Perkembangan anak sangat dipengaruhi oleh latihan yang konsisten. Jika di sekolah sudah diterapkan strategi tertentu, namun tidak dilanjutkan di rumah, maka hasilnya tidak maksimal” ujarnya.
Selain itu, jumlah Guru Pembimbing Khusus (GPK) yang terbatas juga menjadi tantangan tersendiri. Dalam satu sekolah, jumlah ABK yang cukup banyak sering kali tidak sebanding dengan tenaga pendamping yang tersedia.
Kondisi ini membuat guru harus bekerja ekstra dalam mengelola kelas inklusif yang terdiri dari siswa reguler dan ABK dalam satu ruang belajar.
Meski demikian, pendidikan inklusif tetap memberikan dampak positif, terutama bagi ABK dengan kategori ringan yang masih dapat mengikuti pembelajaran di sekolah umum. Bahkan, beberapa siswa mampu menunjukkan potensi unggul di bidang tertentu, seperti seni atau kemampuan mengingat.
Ia mengatakan pentingnya kolaborasi antara guru, orang tua, dan pihak sekolah untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan suportif.
“Yang terpenting adalah kita tidak hanya menerima ABK di sekolah, tetapi juga memahami dan memfasilitasi kebutuhan mereka secara optimal,” katanya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....