Nyepi, Solusi Sehat Dunia

  • 03 Mar 2026 10:09 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Konsep Hari Raya Nyepi kembali menjadi perbincangan menarik dalam podcast bertajuk 'The Balinese Lockdown!? Nyepi 2026 Solusi Sehat Dunia?'. Podcast produksi LPP RRI Singaraja kali ini menghadirkan narasumber I Nyoman Suka Ardiyasa pada Senin, 2 Februari 2026.

Perbincangan pun diawali dengan pertanyaan reflektif: bagaimana jika Nyepi diterapkan di seluruh dunia? Suka Ardiyasa menjelaskan bahwa Nyepi bukan sekadar hening dalam diri manusia, melainkan juga hening untuk alam semesta.

“Nyepi bukan hanya hening dalam diri, namun juga hening untuk alam, artinya Bhuana Agung dan Bhuana Alit harus bersinergi,” ujarnya.

Suka Ardiyasa memaparkan bahwa sejarah Nyepi telah berlangsung sejak zaman leluhur Hindu di Bali, kemudian berkembang ke Hindu Nusantara dengan berbagai bentuk akulturasi budaya. Namun demikian, hanya di Bali Nyepi menjadi acuan utama upacara sekaligus pelaksanaan Tattwanya yang tetap berjalan utuh hingga kini.

Dalam obrolan tersebut juga dibahas dampak positif Nyepi bagi lingkungan. Selama pelaksanaan Nyepi, terjadi efisiensi besar dalam penggunaan sumber daya alam seperti air dan listrik. Selain itu, rangkaian upacara seperti Mabuu-buu dan Mecaru dinilai memiliki makna ekologis dan spiritual yang berkontribusi pada keseimbangan alam.

Terkait fenomena ogoh-ogoh dan esensinya, Suka Ardiyasa menjelaskan bahwa ogoh-ogoh merupakan perwujudan Bhuta Kala yang akan dilebur melalui proses pengarakan dan pecaruan. Namun, ia menyoroti adanya pergeseran makna ketika ogoh-ogoh lebih dipandang sebagai ajang lomba seni budaya. Penggambaran ogoh-ogoh dalam wujud para dewata sebagai simbol Dharma merupakan hal yang tidak tepat dan seharusnya dihindari.

Fenomena sosial juga turut dibahas, terutama terkait semakin berkurangnya keterlibatan generasi muda di banjar. Banyak anak muda yang bekerja di luar daerah, serta faktor finansial yang membuat mereka kesulitan terlibat dalam proses pembuatan ogoh-ogoh. Meski demikian, Suka Ardiyasa memandang hal tersebut sebagai konsekuensi pergeseran kebutuhan zaman, dia menekankan bahwa generasi muda tetap dapat berkontribusi dan ngayah di desa atau banjar, meskipun tidak sesering dulu.

Di akhir sesi, Suka Ardiyasa menyampaikan harapannya agar semakin banyak masyarakat dunia menyadari manfaat luar biasa dari Nyepi. Dia menilai dunia tidak harus menunggu momentum lockdown akibat pandemi seperti Covid-19 untuk merasakan jeda.

Melalui konsep yadnya dan budaya hening yang lebih mendalam, Nyepi dapat menjadi inspirasi “slow living” sejati atau World Silent Day atau Hari Hening Sedunia. Dia juga mengajak generasi muda Bali untuk semakin sadar akan pentingnya melestarikan budaya.

“Nyepi bukan hanya budaya, tetapi taksu kehidupan kita sebagai masyarakat Bali,” katanya mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....