MBG Ramadan di Buleleng Jangkau 64 Ribu Siswa
- 02 Mar 2026 09:05 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Buleleng terus diperluas selama bulan suci Ramadan. Hingga awal Maret 2026, cakupan layanan telah mencapai sekitar 40 persen dari total sasaran. Pemerintah menargetkan distribusi semakin merata seiring penambahan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Koordinator badan Gizi Nasional (BGN) Buleleng, Rusdianto, mengatakan saat ini terdapat 23 SPPG yang sudah operasional. Selain itu, tujuh SPPG lainnya segera menyusul beroperasi dalam waktu dekat. Dengan penambahan tersebut, total SPPG aktif diproyeksikan menjadi sekitar 30 unit.
“Jadi untuk saat ini cakupan kita kurang lebih sudah 40 persen, Bapak. Saat ini sudah 23 yang operasional dan ada tujuh lagi yang akan operasional, jadi kurang lebih 30,” ujar Rusdianto pada Senin, 2 Maret 2026. Ia menambahkan, dalam beberapa minggu ke depan jumlah tersebut masih berpotensi bertambah menjadi 32 hingga 33 unit. Target jangka panjangnya, jumlah SPPG bisa mencapai 60 hingga 65 unit sesuai kebutuhan lapangan.
Dari sisi penerima manfaat, MBG di Buleleng telah menjangkau hampir 64.000 siswa setiap hari. Jumlah tersebut tersebar mulai dari jenjang PAUD hingga SMA, termasuk ibu hamil dan menyusui. “Iya, kita hampir 64.000 porsi yang setiap hari kita berikan,” jelasnya.
Memasuki Ramadan, mekanisme pembagian MBG mengalami penyesuaian. Untuk siswa non-muslim atau yang tidak berpuasa, paket makanan tetap diberikan dalam bentuk siap santap seperti biasa. Sementara bagi siswa muslim yang berpuasa, disiapkan paket kering atau kemasan untuk dibawa pulang.
“Untuk yang muslim itu paket kering atau kemasan. Seperti ada roti, ada telur atau bisa susu, ada kacang sebagai protein nabati, dan buah sebagai serat. Itu kita berikan ketika mereka akan pulang sekolah, jadi tidak mengganggu kekhusyukan mereka berpuasa,” terang Rusdianto. Ia menyebutkan, pola ini sudah diterapkan sejak 23 Februari lalu.
Terkait teknis pembagian, Rusdianto menjelaskan ada arahan untuk memisahkan siswa yang berpuasa dan tidak berpuasa saat makan. Namun kondisi di lapangan menunjukkan siswa yang tidak berpuasa lebih dominan. Karena keterbatasan ruang, siswa yang tidak berpuasa biasanya mencari tempat tersendiri untuk makan.
Selama Ramadan, ia memastikan belum ada keluhan signifikan yang masuk secara resmi. Meski demikian, pihaknya tetap memantau media sosial untuk menindaklanjuti masukan masyarakat. “Syukur alhamdulillah tidak ada keluhan banyak. Kalau pun ada, biasanya soal menu kemasan yang dianggap sederhana, padahal kita menyesuaikan dengan pagu Rp8.000 sampai Rp10.000 dan tetap harus ada protein, serat, serta karbohidrat,” katanya.
Dari sisi pengawasan, setiap SPPG diawasi satu ahli gizi dan wajib melaporkan kegiatan harian. Laporan mencakup jumlah distribusi, menu, hingga penggunaan anggaran yang dipantau melalui sistem pusat dan grup koordinasi daerah. Jika ditemukan menu yang dinilai tidak sesuai atau harga yang tidak wajar, evaluasi langsung dilakukan sebelum operasional minggu berikutnya.
Rusdianto menambahkan, pihaknya juga rutin turun ke sekolah untuk memastikan kualitas pelaksanaan. Selain cita rasa, perhatian juga diberikan pada penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti kebiasaan mencuci tangan dan membawa alat makan sendiri. Ia berharap dengan adaptasi selama Ramadan ini, MBG tetap berjalan optimal dan mampu memenuhi kebutuhan gizi siswa di Buleleng secara merata tahun ini.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....