Asal Usul Nama Desa Manggissari

  • 04 Feb 2026 12:13 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Negara - Desa Manggissari, Kecamatan Pekutatan, Jembrana, Bali yang terletak di wilayah perbatasan Kabupaten Jembrana dan Buleleng dikenal sebagai desa dengan potensi perkebunan rakyat yang kuat. Mayoritas warga menggantungkan hidup dari hasil bumi, seperti buah-buahan, cengkeh, kopi, pala, hingga tanaman perkebunan lainnya.

Sebelum dinamai menjadi desa Manggissari, desa yang memiliki kaitan kuat perkebunan jaman Belanda di Pulukan ini, bernama Barak Seng. 

Bendesa Adat Manggissari, I Nyoman Linggih, mengatakan nama desa Manggissari berawal di sekitar kawasan pura Puncak Sari di dekat perbatasan Buleleng, terdapat sebuah pohon manggis tua. Nyoman Linggih menuturkan, sebelum tahun 1928 desa ini bernama Barakseng. Nama tersebut merujuk pada bangunan peninggalan zaman Belanda berupa barak beratapkan seng merah.

“Nama desa kemudian diubah menjadi Manggissari karena di sebelah selatan bangunan barak itu terdapat pohon manggis yang sangat besar. Pohon tersebut unik, karena sepanjang sejarah hanya berbunga dan tidak pernah berbuah,” jelasnya, Kamis, 22 Januari 2026. 

Sebagai wujud rasa syukur atas hasil kebun tersebut, masyarakat Desa Manggissari hingga kini masih melestarikan tradisi tahunan ngusaba yang dipusatkan di Pura Subak Puncaksari. Dalam prosesi tersebut, krama desa menghaturkan tegteg berupa hasil bumi dengan berjalan kaki menuju pura yang berada tepat di perbatasan Jembrana–Buleleng.

Ngusaba merupakan tradisi turun-temurun yang selalu disambut antusias oleh krama. “Saat ngusaba, halaman utama Pura Subak Puncaksari dipenuhi tegteg hasil kebun sebagai simbol rasa syukur masyarakat,” ujarnya. Dengan karakter wilayah perbukitan, hasil perkebunan menjadi sumber utama penghidupan krama desa.

Pura Subak Puncaksari memiliki keterkaitan erat dengan Pura Taman Puncaksari yang berada tepat di depannya. Pada masa lalu, pura tersebut menjadi tempat warga memohon kelancaran panen. Keduanya juga berkaitan dalam pelaksanaan upacara nangluk merana yang hingga kini rutin digelar setiap Tilem Sasih Keenam. Upacara ini berawal dari peristiwa sebelum tahun 1928, ketika wabah menyerang dan menyebabkan gagal panen, sehingga warga memohon tirta sebagai penolak bala.

Desa Manggissari juga dikenal memiliki daya tarik wisata, seperti objek wisata Bunut Bolong dan sejumlah spot alam lainnya. Dengan kekayaan potensi pariwisata, pertanian, serta adat istiadat yang masih terjaga, Desa Manggissari diharapkan terus tumbuh sebagai desa adat yang berdaya dan berkelanjutan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....