Generasi Muda Kunci Budaya Antikorupsi Sejak Dini
- 29 Jan 2026 13:45 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Generasi muda kerap disebut sebagai agen perubahan, termasuk dalam upaya membangun budaya antikorupsi. Namun, perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Justru, tindakan sederhana dalam kehidupan sehari-hari menjadi fondasi penting dalam mencegah praktik korupsi di masa depan.
Akademisi dan praktisi hukum I Gede Arya Wira Sena, SH., M.Kn. menilai bahwa kesadaran antikorupsi wajib ditanamkan sebelum seseorang memiliki jabatan atau kekuasaan. Menurutnya, banyak kasus korupsi bermula dari hilangnya kepercayaan publik akibat perilaku tidak jujur yang dilakukan secara berulang.
“Kesadaran antikorupsi itu penting ditanamkan sejak muda supaya menjadi kebiasaan, bukan sekadar pengetahuan,” ujar Arya Wira Sena.
Ia menjelaskan bahwa tantangan terbesar bagi generasi muda dalam bersikap jujur sering kali berasal dari tekanan sosial. Lingkungan yang menuntut pencapaian materi secara cepat dapat mendorong seseorang untuk melanggar nilai dan aturan. Dalam kondisi seperti ini, integritas pribadi diuji.
Arya mencontohkan dunia kerja sebagai ruang pembuktian nilai antikorupsi. Dalam pengalamannya sebagai pelaku usaha, kejujuran menjadi faktor utama dalam membangun kepercayaan. Keahlian dapat dilatih, tetapi integritas adalah fondasi yang menentukan apakah seseorang layak diberi tanggung jawab lebih besar.
“Kepercayaan itu mahal, dan sekali disia-siakan, sangat sulit untuk dikembalikan,” katanya.
Di era digital, media sosial dinilai memiliki dua sisi. Di satu sisi, media sosial membantu masyarakat melihat konsekuensi hukum bagi pelaku korupsi sehingga menjadi sarana edukasi. Namun di sisi lain, perdebatan dan narasi yang tidak utuh justru bisa menimbulkan sikap permisif terhadap pelanggaran hukum.
Untuk itu, Arya menekankan pentingnya aksi nyata yang realistis dan dapat dilakukan generasi muda saat ini. Ia merangkum nilai antikorupsi dalam tiga hal utama: jujur, berani menyampaikan kebenaran, dan bertanggung jawab atas setiap tindakan. Ketiga nilai ini, jika diterapkan secara konsisten, akan membentuk karakter yang kuat.
Ia juga mengibaratkan aturan hukum seperti rel kereta api, sementara masyarakat adalah keretanya. Ketika aturan dipatuhi, perjalanan akan aman. Sebaliknya, pelanggaran kecil sekalipun berpotensi menimbulkan dampak besar bagi banyak orang.
Menutup pandangannya, Arya mengajak generasi muda untuk tidak hanya mengandalkan logika dan ambisi, tetapi juga nilai spiritual. Menurutnya, doa menjadi pengingat agar pikiran dan tindakan tetap berada di jalur yang benar.
Dengan menanamkan kejujuran, kesadaran aturan, dan tanggung jawab sejak dini, generasi muda tidak hanya menjadi penonton dalam pemberantasan korupsi, tetapi pelaku utama perubahan menuju masa depan yang lebih bersih dan berintegritas.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....