Nastar, Asal-Usul Nama dan Jejak Kolonial Belanda

  • 22 Sep 2026 11:53 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Nastar adalah kue kering berbentuk bulat dengan isian selai nanas yang menjadi hidangan penting dalam perayaan Idul Fitri di Indonesia.
  • Kehadiran nastar di meja tamu dianggap simbol kehangatan dan kebersamaan keluarga dalam budaya masyarakat Indonesia.
  • Di balik rasanya yang manis dan gurih, nastar menyimpan sejarah panjang akulturasi budaya yang menarik untuk dipelajari lebih dalam.

RRI.CO.ID, Singaraja - Siapa yang tidak mengenal nastar? Kue kering berbentuk bulat kecil berwarna kuning keemasan dengan isian selai nanas ini hampir tidak pernah absen menghiasi meja tamu masyarakat Indonesia saat perayaan hari besar, khususnya Hari Raya Idul Fitri.

Kehadirannya seolah menjadi simbol kehangatan dan kebersamaan keluarga. Namun, di balik kelezatan rasanya yang manis dan gurih, nastar menyimpan sejarah panjang akulturasi budaya yang menarik untuk dikulik.

Meski kini sangat identik dengan tradisi orisinil Indonesia, nastar sebenarnya merupakan kue warisan dari masa kolonial Belanda. Secara etimologis, nama nastar berasal dari gabungan dua kata dalam bahasa Belanda, yaitu ananas yang berarti nanas dan taartjes yang berarti kue tart kecil.

Resep awal nastar terinspirasi dari kue pai atau tart Eropa yang biasanya diisi dengan buah-buahan subtropis seperti apel, stroberi, atau blueberry. Ketika orang-orang Belanda menetap di Nusantara, mereka kesulitan menemukan buah-buahan tersebut dalam kondisi segar.

Sebagai solusinya, mereka memanfaatkan buah nanas, buah tropis lokal yang melimpah dan memiliki perpaduan rasa asam-manis yang serupa. Kue pai besar tersebut kemudian dimodifikasi menjadi bulatan-bulatan kecil agar lebih praktis disajikan dan disantap dalam sekali gigit.

Simbol Kemakmuran dan Keramahan

Pada masa penjajahan, nastar termasuk kuliner mewah yang hanya bisa dinikmati oleh kaum bangsawan dan kaum priayi pada momen-momen hantaran spesial. Seiring berjalannya waktu, resep ini menyebar ke masyarakat luas dan menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya lokal.

Bagi masyarakat Indonesia, menyajikan nastar saat Lebaran merupakan bentuk penghormatan dan keramahan dalam menyambut silaturahmi sanak saudara. Menariknya, nastar tidak hanya populer saat Idul Fitri. Dalam tradisi masyarakat Tionghoa saat merayakan Tahun Baru Imlek, nastar disebut sebagai Ong Lai yang berarti buah pir emas. Warna kuningnya yang berkilau serta rasanya yang manis melambangkan kemakmuran, rezeki yang manis, dan keberuntungan yang melimpah di tahun yang baru.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....