Tertawa Bukan Sekadar Hiburan, Ada Manfaatnya bagi Kesehatan Mental
- 16 Agt 2026 14:00 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Tertawa selama ini lebih sering dianggap sebagai reaksi spontan ketika seseorang mendengar lelucon atau melihat sesuatu yang menghibur. Namun, kebiasaan sederhana tersebut ternyata memiliki sisi lain yang berkaitan dengan kesehatan mental. Tertawa dapat menjadi salah satu cara untuk membantu tubuh dan pikiran menghadapi tekanan dalam aktivitas sehari-hari.
Bagi sebagian orang, tertawa mungkin terasa sepele, terutama ketika kesibukan dan berbagai persoalan membuat pikiran terus bekerja. Padahal, aktivitas yang memancing tawa dapat membantu memberikan jeda dari ketegangan emosional. Direktur Eksekutif National Comedy Center, Journey Gunderson, menyebut tawa mampu memberikan pelepasan ketegangan yang dibutuhkan tubuh ketika seseorang berada dalam kondisi stres.
"Dalam banyak hal, tidak ada obat yang lebih baik untuk tingkat stres dan kecemasan yang tinggi selain tertawa dan pelepasan ketegangan yang dihasilkannya," kata Gunderson. Menurutnya, komedi bekerja dengan membangun ketegangan sebelum kemudian melepaskannya melalui bagian lucu atau punchline. Rasa lega yang muncul setelahnya dapat membantu seseorang merasa lebih rileks dan memberikan ruang bagi tubuh untuk keluar dari tekanan emosional.
Manfaat lain juga terlihat dari latihan improvisasi atau improv yang tidak hanya mengandalkan kemampuan membuat orang tertawa. Aktivitas ini mendorong peserta untuk lebih peka terhadap orang lain, berani mengambil keputusan secara spontan, sekaligus membangun rasa percaya diri. Profesor psikologi Gordon Bermant menjelaskan, latihan improvisasi memiliki kesamaan dengan praktik psikologi karena dapat membantu mengembangkan kesadaran diri, perhatian terhadap orang lain, dan rasa saling percaya.
Dalam latihan improv, peserta juga dikenalkan dengan prinsip "Yes, and...", yakni menerima ide atau situasi yang diberikan orang lain lalu mengembangkannya bersama. Direktur Artistik Second City, Kevin Frank, mengatakan pendekatan tersebut membuat peserta belajar mendukung satu sama lain tanpa menghakimi. "Peserta belajar saling mendukung tanpa menghakimi, berani mengambil risiko, dan menerima kegagalan sebagai pelajaran maupun peluang," ujarnya.
Bagi anak muda yang menghadapi tekanan pekerjaan, perkuliahan, pergaulan, maupun kehidupan digital yang serba cepat, tertawa bisa menjadi salah satu aktivitas sederhana untuk memberi ruang bagi diri sendiri. Menonton tayangan komedi, bercanda bersama teman, atau mengikuti aktivitas kreatif seperti improv dapat menjadi pilihan untuk menciptakan suasana yang lebih ringan. Meski demikian, tertawa bukan pengganti terapi atau penanganan profesional ketika seseorang mengalami masalah kesehatan mental yang serius.
Pada akhirnya, menjaga kesehatan mental tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang rumit. Memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk tertawa dan menikmati momen menyenangkan dapat menjadi salah satu langkah kecil dalam mengelola stres sehari-hari. Jadi, ketika hari terasa berat, tidak ada salahnya mencari alasan untuk tertawa, selama tetap dilakukan dengan cara yang sehat dan tidak merugikan orang lain.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....