Emotional Eating, saat Makan Jadi Pelarian dari Emosi
- 30 Mei 2026 22:16 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Pernah merasa tiba-tiba ingin menyantap cokelat, es krim, atau camilan asin setelah menjalani hari yang melelahkan, padahal belum lama sebelumnya sudah makan? Kondisi tersebut bisa jadi merupakan emotional eating, yaitu kebiasaan makan yang dipicu oleh emosi, bukan karena tubuh benar-benar membutuhkan energi. Fenomena ini semakin sering terjadi di tengah gaya hidup modern yang penuh tekanan dan tuntutan.
Emotional eating adalah kondisi ketika seseorang makan untuk meredakan atau mengalihkan perasaan tertentu seperti stres, sedih, marah, bosan, cemas, atau kesepian. Berbeda dengan lapar fisik yang muncul secara alami karena tubuh membutuhkan asupan makanan, lapar emosional biasanya datang secara tiba-tiba dan terasa sangat mendesak. Keinginan makan ini lebih banyak dipengaruhi oleh kondisi psikologis dibanding kebutuhan biologis.
Salah satu cara membedakan lapar fisik dan lapar emosional adalah dari jenis makanan yang diinginkan. Saat benar-benar lapar, seseorang cenderung terbuka pada berbagai pilihan makanan. Sebaliknya, lapar emosional biasanya membuat seseorang mengidamkan makanan tertentu yang tinggi gula, garam, atau lemak, seperti cokelat, keripik, atau makanan cepat saji. Selain itu, rasa lapar emosional sering kali tidak disertai tanda-tanda fisik seperti perut keroncongan atau tubuh lemas.
Emotional eating juga kerap membuat seseorang makan tanpa sadar. Misalnya, menghabiskan satu bungkus camilan sambil menonton televisi atau bekerja tanpa benar-benar menikmati makanan tersebut. Setelah selesai makan, perasaan nyaman yang muncul biasanya hanya bersifat sementara dan sering berganti menjadi rasa bersalah atau penyesalan karena makan secara berlebihan.
Berbagai faktor dapat memicu emotional eating. Stres menjadi salah satu penyebab utama karena meningkatkan produksi hormon kortisol yang dapat memicu keinginan mengonsumsi makanan manis atau gurih. Selain itu, rasa bosan, kesepian, kecemasan, kebiasaan masa kecil, hingga pengaruh lingkungan sosial juga dapat membuat seseorang menjadikan makanan sebagai pelarian emosional.
Untuk mengatasi kebiasaan ini, penting untuk mengenali pemicunya terlebih dahulu. Menulis jurnal makanan dan suasana hati dapat membantu memahami pola yang terjadi. Selain itu, mencari cara lain untuk mengelola emosi seperti berolahraga, membaca, mendengarkan musik, atau berbicara dengan orang terdekat juga dapat menjadi alternatif yang lebih sehat. Tidur yang cukup dan meluangkan waktu untuk relaksasi setiap hari juga berperan penting dalam membantu mengendalikan keinginan makan yang dipicu oleh emosi.
Memahami perbedaan antara lapar fisik dan lapar emosional merupakan langkah awal untuk membangun hubungan yang lebih sehat dengan makanan. Dengan mengenali sinyal tubuh dan emosi secara lebih baik, seseorang dapat menjaga kesehatan fisik sekaligus kesejahteraan mental dalam jangka panjang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....