Mengenal Sifilis, Infeksi Menular Seksual yang Perlu Diwaspadai

  • 20 Mei 2026 12:14 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja — Sifilis atau yang dikenal masyarakat sebagai raja singa merupakan penyakit menular seksual yang disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum. Penyakit ini dapat menyerang pria maupun wanita dan sering kali tidak disadari pada tahap awal karena gejalanya tidak menimbulkan rasa sakit.

Dikutip dari Alodokter, sifilis umumnya menular melalui hubungan seksual tanpa pengaman atau kontak langsung dengan luka yang terinfeksi. Luka sifilis biasanya muncul di area kelamin, mulut, atau dubur dan sering tidak terasa nyeri sehingga penderitanya tidak menyadari telah terinfeksi.

Selain melalui hubungan seksual, sifilis juga dapat ditularkan dari ibu hamil kepada janin melalui plasenta. Kondisi ini dikenal sebagai sifilis kongenital dan dapat menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, bayi lahir mati, hingga kelainan bawaan pada bayi.

Gejala sifilis berkembang secara bertahap sesuai stadium penyakit. Pada tahap primer, muncul luka kecil atau chancre di area masuknya bakteri. Luka tersebut dapat sembuh sendiri, tetapi infeksi tetap berlanjut di dalam tubuh.

Jika tidak diobati, sifilis akan memasuki tahap sekunder yang ditandai dengan ruam pada tubuh, termasuk telapak tangan dan kaki. Penderita juga dapat mengalami demam, nyeri otot, sakit tenggorokan, pembengkakan kelenjar getah bening, hingga sariawan.

Pada tahap laten, penderita tidak menunjukkan gejala apa pun meski bakteri masih berada di dalam tubuh. Sementara pada tahap tersier, sifilis dapat menyebabkan kerusakan serius pada organ penting seperti otak, saraf, jantung, dan pembuluh darah.

Beberapa faktor dapat meningkatkan risiko seseorang tertular sifilis, di antaranya berganti-ganti pasangan seksual, berhubungan tanpa kondom, memiliki pasangan penderita sifilis, serta terinfeksi HIV.

Dokter menyarankan masyarakat segera memeriksakan diri apabila mengalami luka atau ruam di area kelamin, keluar cairan tidak biasa dari organ intim, atau memiliki pasangan yang terdiagnosis sifilis.

Diagnosis sifilis dilakukan melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, serta tes darah untuk mendeteksi antibodi terhadap bakteri sifilis. Pemeriksaan sampel luka juga dapat dilakukan untuk memastikan keberadaan bakteri Treponema pallidum.

Pengobatan utama sifilis dilakukan dengan pemberian antibiotik penisilin. Penanganan sejak dini sangat penting untuk mencegah komplikasi serius serta memutus rantai penularan.

Untuk mencegah sifilis, masyarakat dianjurkan menerapkan perilaku seksual yang aman, setia pada satu pasangan, menggunakan kondom, dan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan terutama bagi yang memiliki faktor risiko tinggi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....