Singkong: Solusi Pangan Masa Depan Dengan Manfaat Tak Terbatas
- 15 Apr 2026 09:40 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Tanaman singkong (juga dikenal sebagai ubi kayu, ketela pohon, atau kaspe) adalah tanaman perdu tropis tahunan dengan nama ilmiah Manihot esculenta Crantz (sinonim: Manihot utilissima), dari famili Euphorbiaceae. Tanaman ini berasal dari Amerika Selatan (Brasil), tapi sudah lama dibudidayakan di Indonesia sejak abad ke-16 dan menjadi salah satu sumber karbohidrat penting setelah beras dan jagung.Di Indonesia, singkong sangat populer karena mudah tumbuh di berbagai jenis tanah (termasuk lahan marginal/kering), tahan kekeringan, dan bisa ditanam sepanjang tahun tanpa musim tertentu. Ia sering disebut sebagai tanaman "penyangga" ketahanan pangan.
Dikutip dari hellosehat.com, ciri-ciri tanaman singkong:
-Bentuk tanaman: Perdu tegak yang bisa mencapai tinggi 1–7 meter, dengan batang berkayu, beruas, dan bercabang jarang. Batang muda biasanya hijau atau kemerahan, batang tua lebih cokelat/abu-abu.
-Daun: Besar, berbentuk menjari (palmate) dengan 3–9 cuping (belahan) yang runcing. Daun bertangkai panjang dan mudah rontok. Warna daun hijau terang, pucuknya kadang kekuningan.
-Akar/Umbi: Akar tunggang yang membesar menjadi umbi akar panjang (50–80 cm atau lebih), ramping, dengan ujung runcing. Kulit umbi kasar berwarna cokelat/kuning, daging umbi biasanya putih atau kekuningan. Umbi inilah yang paling dimanfaatkan.
-Bunga: Kecil, berwarna hijau-kemerahan, jarang muncul kecuali pada varietas tertentu.
-Getah: Mengandung lateks putih, dan tanaman ini mengandung senyawa glikosida sianogenik (seperti linamarin) yang bisa menghasilkan asam sianida (HCN) — racun alami.
Singkong mirip dengan tanaman patah tulang (Euphorbia tirucalli) yang kamu tanyakan sebelumnya karena sama-sama dari famili Euphorbiaceae dan mengeluarkan getah, tapi singkong punya daun lebar besar dan umbi besar yang bisa dimakan (setelah diolah).
Manfaat dan kegunaan singkong:
-Umbi: Sumber energi tinggi (kaya karbohidrat, sekitar 110–150 kalori per 100g), bisa diolah menjadi nasi singkong, gaplek, tepung tapioka, mocaf, keripik, tape, getuk, atau makanan ringan. Juga bahan baku industri (bioetanol, pakan ternak).
-Daun: Kaya protein, zat besi, vitamin A, dan bisa dijadikan sayur (seperti daun singkong rebus, gulai, atau lalapan). Daunnya sering digunakan sebagai sayuran bergizi.
-Lainnya: Batang untuk pagar hidup atau kayu bakar; tanaman ini mendukung diversifikasi pangan dan ekonomi petani karena produktivitas tinggi (bisa >40 ton/ha dengan varietas unggul).
Singkong juga mengandung serat, vitamin C, dan antioksidan yang baik untuk pencernaan, imunitas, dan mengontrol gula darah (jika diolah benar).
Peringatan penting — Racun sianida:Singkong mengandung glikosida sianogenik yang bisa berubah menjadi sianida beracun, terutama pada varietas pahit (kadar HCN >50 mg/kg). Singkong manis biasanya lebih rendah racun. Gejala keracunan: mual, pusing, sesak napas, bahkan fatal jika berlebihan.
Cara aman mengolah:
-Kupas kulit tebal (kulit mengandung racun paling banyak).
-Rendam umbi dalam air minimal 1–2 hari (atau lebih lama untuk singkong pahit).
-Masak matang (rebus, kukus, goreng) — panas akan menguapkan racun.
-Hindari makan mentah atau setengah matang.
-Daun juga perlu direbus matang untuk mengurangi racun.
Budidaya singkong: Sangat mudah! Tanam dengan stek batang (potong batang berumur 8–12 bulan, diameter ~2,5 cm, tanam tegak atau miring). Cocok di tanah gembur, sinar matahari penuh, curah hujan 1500–2500 mm/tahun. Panen setelah 7–12 bulan.
Di Indonesia, daerah seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Lampung adalah penghasil utama.Singkong termasuk tanaman yang "ramah" untuk pekarangan atau lahan kering, mirip widuri atau patah tulang dalam hal ketahanan, tapi jauh lebih bergizi sebagai pangan. (RRI/Dewa Arta)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....