Kasus Demam Berdarah Bali Menurun Sepanjang Tahun 2025
- 11 Jan 2026 09:31 WIB
- Singaraja
KBRN, Denpasar: Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali mencatat penurunan jumlah kasus demam berdarah dengue (DBD) sepanjang tahun 2025 dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan ini juga diikuti berkurangnya angka kematian akibat penyakit yang ditularkan nyamuk Aedes aegypti tersebut.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Bali, I Gusti Ayu Raka Susanti, mengatakan selama 2025 tercatat sebanyak 10.391 kasus DBD dengan 14 kematian. Jumlah tersebut menurun dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 15.570 kasus dengan 25 kematian.
“Kalau DBD dibandingkan 2024 itu tidak ada peningkatan. Pada 2024 justru kasus lebih tinggi. Pada 2025 menurun, jumlah kematiannya juga turun,” ujar Raka Susanti di Denpasar.
Ia menjelaskan, penurunan kasus DBD tidak terlepas dari langkah antisipasi yang dilakukan sejak awal tahun, di antaranya penerbitan edaran kewaspadaan kepada seluruh kabupaten dan kota di Bali. Selain itu, peran aktif juru pemantau jentik (jumantik) dinilai efektif dalam menggerakkan kesadaran masyarakat.
“Jumantik datang memeriksa jentik di rumah warga dan minggu berikutnya kembali lagi untuk evaluasi. Ini cukup efektif mendorong masyarakat untuk rutin memantau jentik di rumah,” ucapnya.
Upaya pencegahan juga dilakukan melalui program vaksinasi demam berdarah. Raka Susanti menyebut, salah satu desa di Kabupaten Gianyar bekerja sama dengan lembaga swadaya masyarakat (LSM) melakukan vaksinasi DBD kepada sekitar 1.000 siswa, mengingat Gianyar menjadi salah satu daerah dengan kasus tertinggi.
Jika dirinci, sepanjang 2025 kasus DBD tertinggi tercatat di Kabupaten Badung dengan 2.038 kasus, disusul Gianyar 1.972 kasus, Buleleng 1.726 kasus, Karangasem 1.518 kasus, Denpasar 1.291 kasus, Klungkung 668 kasus, Tabanan 664 kasus, Bangli 396 kasus, dan Jembrana 118 kasus.
Sementara itu, kasus kematian akibat DBD paling banyak terjadi di Kota Denpasar dengan empat kasus. Disusul Gianyar dan Tabanan masing-masing tiga kasus, Klungkung dua kasus, serta Buleleng dan Karangasem masing-masing satu kasus.
Meski mengalami penurunan, Dinkes Bali menilai jumlah kasus DBD sepanjang 2025 masih tergolong tinggi. Faktor kepadatan penduduk, tingkat kebersihan lingkungan, serta curah hujan yang memicu genangan air dinilai menjadi penyebab utama masih tingginya angka kasus.
Terkait upaya pengendalian menggunakan nyamuk ber-Wolbachia, Raka Susanti menyebut metode tersebut belum dapat diterapkan secara luas di Bali. Pasalnya, masih terdapat penolakan dan kontroversi di tengah masyarakat.
Dinkes Bali pun mengimbau masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kebersihan lingkungan dan rutin melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) sebagai langkah utama mencegah demam berdarah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....