Kasus Orang Hilang di Jeju Jadi Sorotan, Empat Korban Ditemukan Meninggal

  • 27 Agt 2026 14:32 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Pulau Jeju, Korea Selatan, yang selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata paling populer di Asia, tengah menjadi sorotan setelah serangkaian kasus orang hilang berujung pada penemuan empat korban meninggal dalam waktu hanya tiga hari.

Kasus tersebut memicu kekhawatiran publik, bukan hanya karena jumlah korban yang ditemukan dalam waktu berdekatan, tetapi juga karena muncul dugaan adanya kelalaian dalam penanganan laporan orang hilang oleh kepolisian setempat. Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung bahkan telah meminta pertanggungjawaban yang lebih besar dari kepolisian menyusul kemarahan publik.

Salah satu kasus yang paling menyita perhatian adalah hilangnya Jang Mi-ran, 37 tahun. Jang dilaporkan menghilang pada 12 Mei setelah meninggalkan tempat penginapannya di wilayah Hallim, Jeju.

Menurut laporan media Korea, seorang petugas kepolisian yang menangani kasus tersebut diduga menutup laporan tanpa benar-benar memastikan kondisi Jang. Beberapa bulan kemudian, pencarian kembali dilakukan setelah keluarga dan orang terdekat mempertanyakan keberadaannya.

Pada 24 Agustus, tubuh yang diyakini sebagai Jang ditemukan di sebuah perkebunan pohon palem di wilayah Hallim. Saat ditemukan, Jang telah hilang selama sekitar 104 hari. Kasus ini kemudian berkembang menjadi persoalan yang lebih besar karena muncul dugaan bahwa laporan kehilangan tersebut sebelumnya ditangani secara tidak semestinya.

Situasi semakin mengejutkan ketika total empat orang yang sebelumnya dilaporkan hilang ditemukan meninggal dalam periode tiga hari. Polisi menegaskan bahwa kasus-kasus tersebut sejauh ini tidak dinyatakan saling berkaitan. Salah satu korban lainnya adalah seorang pria berusia 60-an yang sebelumnya juga dilaporkan hilang. Keluarganya kemudian kembali meminta pencarian, hingga jasadnya ditemukan sekitar 51 hari setelah dilaporkan hilang.

Dua penemuan lainnya turut menambah perhatian publik terhadap situasi tersebut. Namun, hingga kini belum ada bukti resmi yang menunjukkan bahwa keempat kasus tersebut merupakan bagian dari satu rangkaian kejahatan yang sama. Kontroversi terbesar justru muncul dari cara sejumlah laporan orang hilang ditangani.

Seorang petugas kepolisian yang diduga menangani kasus-kasus tersebut kini menjadi pusat penyelidikan. Polisi Korea Selatan sedang meninjau 298 laporan orang hilang yang pernah ditangani petugas tersebut. Sekitar 10 kasus dilaporkan sedang diperiksa lebih lanjut karena diduga terdapat kemungkinan penutupan perkara yang tidak semestinya.

Petugas tersebut telah ditahan atas dugaan pelanggaran tugas, pemalsuan catatan elektronik resmi, dan menghalangi pelaksanaan tugas. Ia membantah tuduhan tersebut dan menyatakan bahwa dirinya telah menghubungi orang-orang yang dilaporkan hilang, menurut laporan Reuters. Empat pejabat dalam rantai komando kepolisian yang terkait dengan kasus tersebut juga telah dinonaktifkan sementara dari tugas.

Presiden Lee Jae Myung ikut merespons kasus tersebut dengan menekankan pentingnya akuntabilitas kepolisian. Pelaksana tugas Kepala Kepolisian Nasional Korea Selatan, Yoo Jae-seong, telah menyampaikan permintaan maaf dan menjanjikan perbaikan sistem. Untuk sementara, penutupan kasus orang hilang akan membutuhkan persetujuan atasan, sambil dilakukan pembaruan sistem manajemen perkara.

Menteri Dalam Negeri dan Keselamatan Korea Selatan, Yun Ho-jung, juga menyampaikan permintaan maaf kepada keluarga korban dan masyarakat. Kasus ini membuat media sosial dipenuhi berbagai peringatan mengenai keselamatan di Jeju. Bahkan muncul unggahan yang menyebut adanya jaringan perdagangan manusia atau dugaan pembunuhan berantai. Namun, klaim-klaim tersebut belum terbukti.

Pemerintah daerah Jeju telah meminta masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Polisi juga menyatakan bahwa berdasarkan temuan awal pada kasus-kasus tersebut, kemungkinan adanya korban kejahatan tidak dapat langsung disimpulkan dari penemuan jasad.

Karena itu, narasi bahwa "orang-orang sedang diculik secara massal di Jeju" atau bahwa keempat kematian tersebut merupakan satu kasus pembunuhan berantai sebaiknya tidak dianggap sebagai fakta sebelum ada keterangan resmi dari penyidik.

Kasus tersebut tetap memberikan dampak terhadap citra Jeju sebagai destinasi wisata. Pulau ini merupakan salah satu tujuan wisata utama Korea Selatan dan menerima sekitar 1,2 juta wisatawan asing pada paruh pertama 2026.

Kekhawatiran wisatawan pun meningkat setelah berita mengenai penemuan empat jasad tersebut menyebar luas di media sosial. Sejumlah laporan menyebut ada calon wisatawan yang mempertimbangkan untuk membatalkan perjalanan mereka. Meski demikian, sejauh informasi resmi yang tersedia saat ini, belum ada pernyataan pemerintah yang menyatakan Jeju sebagai wilayah yang sedang mengalami ancaman kriminal massal. (Sources/reuters)

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....