Lubang Biopori: Manfaat Lingkungan dan Cara Membuatnya
- 07 Jan 2026 07:57 WIB
- Singaraja
KBRN, Singaraja: Biopori, atau lebih tepatnya lubang resapan biopori, adalah lubang silindris vertikal yang dibuat di tanah untuk meningkatkan daya serap air hujan ke dalam tanah. Teknologi ini dicetuskan oleh Dr. Kamir Raziudin Brata, peneliti dari Institut Pertanian Bogor (IPB), sebagai solusi sederhana dan ramah lingkungan untuk mengatasi genangan air serta banjir.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), biopori didefinisikan sebagai lubang buatan pada tanah yang diisi sampah organik untuk resapan air. Lubang ini biasanya berdiameter 10-30 cm dan kedalaman hingga 100 cm, kemudian diisi dengan sampah organik seperti daun kering, kulit buah, atau sisa makanan (bukan sampah anorganik).
Dikutip dari tarubali.baliprov.go.id, berikut manfaat utama Biopori:
-Mencegah banjir dan genangan air — Meningkatkan resapan air hingga puluhan kali lipat dibandingkan permukaan tanah biasa.
-Mengolah sampah organik — Sampah di dalam lubang diuraikan oleh biota tanah (cacing, rayap, mikroorganisme) menjadi kompos alami.
-Menyuburkan tanah — Menambah bahan organik dan meningkatkan kesehatan serta kesuburan tanah.
-Menjaga cadangan air tanah — Air yang terserap membantu mengisi akuifer, berguna saat musim kemarau.
-Mengurangi emisi gas rumah kaca — Penguraian sampah organik di tanah lebih ramah lingkungan daripada di tempat pembuangan.
Biopori mudah dibuat di halaman rumah, taman, atau area terbuka lainnya. Teknologi ini telah banyak diterapkan di berbagai kota di Indonesia untuk mengurangi risiko banjir dan mengelola limbah organik secara berkelanjutan. Membuat lubang biopori sangat sederhana, murah, dan bisa dilakukan sendiri di halaman rumah. Ukuran standar: diameter 10-30 cm dan kedalaman 80-100 cm (jangan melebihi muka air tanah). Jarak antar lubang minimal 50-100 cm.
Alat dan Bahan yang Diperlukan
-Bor tanah manual (alat khusus biopori, bisa dibuat dari pipa besi atau beli yang spiral). Alternatif: linggis atau cangkul jika tanah lunak.
-Pipa PVC (opsional, diameter 10 cm, dilubangi sisi-sisinya untuk liner lubang).
-Sampah organik (daun kering, kulit buah, sisa sayur – bukan plastik atau anorganik).
-Air untuk menyiram tanah.
-Ember atau terpal untuk menampung tanah galian.
Langkah-Langkah Pembuatan
-Tentukan lokasi: Pilih area terbuka yang sering tergenang air hujan, seperti halaman, sekitar pohon, atau tepi taman. Hindari dekat sumur, fondasi bangunan, atau kabel bawah tanah.
-Siapkan tanah: Siram area tersebut dengan air hingga tanah lunak dan mudah digali. Gelar terpal atau siapkan ember untuk menampung tanah galian agar tidak berantakan.
-Buat lubang: Gunakan bor tanah, putar searah jarum jam sambil tekan ke bawah hingga kedalaman 80-100 cm. Buat lubang vertikal (tegak lurus). Keluarkan tanah galian secara bertahap.
-Pasang liner (opsional): Masukkan pipa PVC yang sudah dilubangi sisi-sisinya ke dalam lubang untuk mencegah dinding runtuh.
-Isi dengan sampah organik: Masukkan sampah organik hingga 10-20 cm dari permukaan. Jangan padatkan, biarkan longgar agar ada ruang untuk air dan udara.
-Tutup lubang: Tutup mulut lubang dengan kawat kasa atau penutup berlubang untuk mencegah nyamuk dan sampah besar masuk, tapi air tetap bisa meresap.
-Tambah sampah organik secara rutin (setiap 5-7 hari) hingga penuh.
-Biarkan 2-3 bulan hingga sampah menjadi kompos (dibantu cacing dan mikroorganisme).
-Angkat kompos yang jadi (bisa dipakai pupuk tanaman), lalu isi ulang dengan sampah baru.
-Bersihkan jika ada penyumbatan.
-Dengan membuat beberapa lubang biopori (misalnya 10-50 tergantung luas area), Anda bisa membantu mengurangi banjir lokal, mengolah sampah organik, dan menjaga cadangan air tanah.( RRI/Dewa Arta)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....