Konten Religi Digital Harus Utamakan Edukasi Bukan Sensasi Viral

  • 19 Jul 2026 08:58 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh informasi keagamaan. Platform seperti TikTok kini menjadi salah satu ruang yang banyak dimanfaatkan kreator untuk membagikan konten religi dengan berbagai gaya penyampaian.

Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul tantangan baru terkait akurasi informasi dan kecenderungan sebagian konten yang lebih mengutamakan sensasi demi meningkatkan jumlah penonton. Hal itu menjadi pembahasan dalam program Obrolan SPADA PRO 2 RRI Singaraja beberapa waktu lalu bersama Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Putu Sariada, yang mengajak masyarakat agar lebih bijak menyikapi konten keagamaan di ruang digital.

Menurut Putu Sariada, media sosial sejatinya merupakan sarana yang sangat efektif untuk menyebarkan nilai-nilai keagamaan kepada masyarakat lintas usia. Namun, kebebasan membuat konten juga harus dibarengi dengan tanggung jawab moral agar informasi yang disampaikan tidak menyesatkan. Seorang kreator, kata dia, perlu memastikan setiap materi yang dibagikan memiliki dasar sastra atau dalil agama yang benar serta disampaikan dengan bahasa yang santun tanpa memicu konflik antarumat.

"Konten religi harus bersumber dari sastra yang benar dan tetap menjaga etika agar tidak menyinggung unsur SARA," ujar Putu Sariada. Menurutnya, tujuan utama konten keagamaan seharusnya memberikan pemahaman, bukan sekadar mengejar popularitas di media sosial.

Ia juga menyoroti fenomena meningkatnya interaksi pada konten yang mengangkat isu-isu sensitif. Tidak sedikit unggahan bernuansa religi yang akhirnya dipenuhi perdebatan panjang di kolom komentar. Menariknya, konflik tersebut sering kali bukan dipicu oleh isi konten, melainkan oleh respons para pengguna media sosial yang saling mempertahankan pendapat masing-masing. Kondisi ini menunjukkan bahwa literasi digital masih menjadi pekerjaan rumah yang perlu terus diperkuat agar ruang digital tetap menjadi tempat bertukar informasi secara sehat dan saling menghormati.

Selain itu, Putu Sariada menilai tantangan lain dalam penyebaran edukasi agama adalah rendahnya minat masyarakat terhadap konten yang bersifat informatif. Dibandingkan video yang memancing kontroversi, materi edukasi yang menjelaskan ajaran agama secara mendalam cenderung memperoleh perhatian lebih sedikit.

"Masyarakat perlu membiasakan diri melakukan verifikasi informasi dan tidak mudah terpancing perdebatan yang belum tentu memiliki dasar yang benar," ucap Putu Sariada.

Karena itu, ia mendorong agar edukasi keagamaan tidak hanya dilakukan melalui media sosial, tetapi juga dipadukan dengan kegiatan tatap muka seperti pasraman, Dharma Tula, maupun diskusi keagamaan di lingkungan masyarakat.

Melalui pemanfaatan media digital yang bertanggung jawab, konten religi dapat menjadi sarana pembelajaran yang efektif bagi generasi muda maupun masyarakat luas. Namun, keberhasilan edukasi tersebut tidak hanya bergantung pada kreator, melainkan juga pada kedewasaan pengguna dalam menerima, menyaring, dan memberikan tanggapan terhadap setiap informasi yang beredar.

Dengan mengedepankan etika, literasi digital, dan semangat saling menghormati, media sosial dapat menjadi ruang yang produktif dalam memperkuat nilai-nilai keagamaan sekaligus menjaga kerukunan di tengah keberagaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....