Sarat Makna Spiritual, Ragam Udeng Bali Bukan Sekadar Ikat Kepala Biasa
- 06 Agt 2026 15:10 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Udeng adalah kain pengikat kepala tradisional pria Bali yang menyimpan filosofi spiritual mendalam bersumber dari pustaka suci dan ajaran agama Hindu.
- Penggunaan udeng mencerminkan komitmen moral sekaligus pemusatan pikiran bagi pemakainya dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
- Masyarakat Bali membagi penggunaan udeng ke dalam tiga jenis yang disesuaikan dengan status atau peran seseorang dalam upacara adat dan keagamaan.
RRI.CO.ID, Singaraja - Kain pengikat kepala khas pria Bali, atau yang akrab disebut udeng, kini tidak hanya dipandang sebagai pelengkap busana adat semata. Di balik lekukan kainnya yang khas, udeng menyimpan filosofi spiritual mendalam yang bersumber dari pustaka suci dan ajaran agama Hindu.
Identitas budaya Pulau Dewata ini mencerminkan komitmen moral sekaligus pemusatan pikiran bagi pemakainya dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Secara struktural, masyarakat Bali membagi penggunaan udeng ke dalam tiga jenis yang disesuaikan dengan status atau peran seseorang dalam upacara adat dan keagamaan.
Pertama adalah Udeng Jejateran.
Jenis ini merupakan pengikat kepala yang paling umum digunakan oleh masyarakat luas untuk keperluan persembahyangan di pura. Ciri khasnya terletak pada simpul hidup di bagian depan dahi yang melambangkan cundamani atau mata ketiga, serta bentuk guratan asimetris di mana sisi kanan sengaja dibuat lebih tinggi daripada sisi kiri. Hal ini mengandung pesan filosofis bahwa setiap manusia harus selalu mengutamakan dan memperbanyak perbuatan kebajikan (dharma) di atas keburukan (adharma).
Kedua, Udeng Dara Kepak.
Model udeng ini memiliki karakteristik tambahan berupa penutup kepala khusus yang disebut bebidakan. Udeng jenis ini secara turun-temurun kerap dikenakan oleh para pemimpin adat, tokoh masyarakat, maupun para ksatria. Desainnya melambangkan ketegasan, wibawa, serta tanggung jawab besar seorang pemimpin dalam mengayomi dan melindungi warganya.
Ketiga adalah Udeng Beblatukan.
Udeng ini memiliki bentuk khas berupa lipatan kain yang membungkus seluruh kepala secara penuh tanpa menyisakan penutup tegak (bebidakan) di atasnya. Simpul ikatannya ditempatkan di bagian belakang dengan ujung yang diarahkan menghadap ke bawah. Udeng Beblatukan ini dikhususkan bagi para pemangku atau rohaniawan saat memimpin upacara. Ujung simpul yang menghadap ke bawah memuat amanat moral yang luhur, yakni kewajiban seorang pemangku untuk selalu mendahulukan kepentingan umum dan pelayanan umat.
Selain model dan bentuk lipatan, warna kain pada udeng juga mengikat aturan-aturan yang tidak boleh diabaikan. Untuk keperluan ibadah ke pura, warna putih dipilih merepresentasikan kesucian diri, kejernihan batin dan kedamaian pikiran.
Udeng berwarna hitam atau gelap digunakan dalam suasana perkabung atau upacara kematian (Atma Wedana/Ngaben) sebagai lambang keteguhan batin. Untuk keperluan aktivitas sosial, upacara adat non-keagamaan, maupun kegiatan seni budaya sehari-hari, masyarakat diperkenankan mengenakan udeng bermotif batik atau warna variatif lainnya.
Hal itu berdasarkan Keputusan Seminar Kesopanan Berbusana ke Pura yang diselenggarakan oleh PHDI bersama para tokoh adat di Amlapura pada tahun 1975 dan diperkuat Paruman Sulinggih 1976). Busana harus didasarkan pada konsep Tri Angga (kepala, badan, dan kaki).
Tidak sebatas tuntunan moral keagamaan belaka, nilai luhur yang dikawal PHDI ini kini telah memperoleh kedudukan hukum formal yang solid di tataran birokrasi. Pemerintah Provinsi Bali mengadopsi standarisasi pakaian adat ini melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Bali Nomor 79 Tahun 2018 tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....