Tradisi Sokok Pegayaman Perkuat Nilai Sedekah dan Toleransi
- 26 Agt 2026 23:24 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Tradisi Sokok merupakan rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng pada 26 Agustus 2026.
- Tradisi ini memiliki dimensi makna keagamaan yang kuat dan berfungsi sebagai sarana untuk memperkuat kepedulian sosial, silaturahmi, dan toleransi antarumat beragama.
- Sokok dihias menggunakan pohon pisang dan telur dengan jumlah tertentu yang masing-masing memiliki filosofi tersendiri yang berkaitan dengan perjalanan dan keteladanan Nabi Muhammad SAW.
RRI.CO.ID, Singaraja – Tradisi Sokok menjadi salah satu rangkaian khas peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng pada Rabu 26 Agustus 2026. Tradisi ini tidak hanya sarat makna keagamaan, tetapi juga menjadi sarana memperkuat kepedulian sosial, silaturahmi, dan toleransi antarumat beragama.
Tokoh masyarakat sekaligus Pimpinan Yayasan Miftahul Ulum, Wayan Imam Muhajir, menjelaskan Sokok memiliki sejumlah filosofi yang berkaitan dengan perjalanan dan keteladanan Nabi Muhammad SAW. Sokok dihias menggunakan pohon pisang dan telur dengan jumlah tertentu yang memiliki makna tersendiri.
Menurutnya, salah satu Sokok berjumlah 63 sebagai simbol usia Nabi Muhammad SAW yang wafat pada usia 63 tahun. Sementara telur dimaknai sebagai gambaran Alquran yang perlu dipahami hingga menemukan inti dan nilai kebenarannya.
“Telur itu diumpamakan Alquran. Alquran itu dilihat, didengar walaupun tidak bisa membaca itu senang rasanya, sejuk rasanya. Tapi Alquran itu kalau dikupas nanti baru ketemu inti sarinya,” ujar Wayan Imam Muhajir.

Ia menambahkan, peringatan Maulid Nabi di Pegayaman memiliki tiga nilai utama, yakni meningkatkan kepedulian sosial melalui sedekah, memperbanyak selawat, serta mempererat silaturahmi antarwarga.
Tradisi tersebut juga menjadi ruang kebersamaan masyarakat Pegayaman yang hidup berdampingan dengan umat beragama lain. Peringatan Maulid dilaksanakan dalam dua rangkaian. Tanggal 12 Rabiul Awal dikhususkan bagi umat Muslim, sedangkan pada tanggal 13 Rabiul Awal kegiatan dibuka lebih luas sebagai wujud nilai rahmatan lil alamin.
“Ini menunjukkan bahwa Islam sebenarnya tidak membedakan antara kemanusiaan. Keyakinannya masing-masing punya keyakinan, tetapi hubungan kemanusiaannya sama,” katanya.
Wayan Imam Muhajir berharap tradisi Maulid Nabi di Pegayaman terus dilestarikan dengan semangat kebersamaan dan keikhlasan. Menurutnya, nilai-nilai yang diwariskan para leluhur tersebut relevan untuk memperkuat persaudaraan dan toleransi di tengah masyarakat.
“Dengan adanya seperti ini, apa yang menjadi cita-cita bangsa dan negara untuk kebersamaan itu akan bisa terwujud,” ucapnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....