Nasi Kuning di Hari Raya Kuningan, Simbol Doa, Berkah, dan Kesejahteraan

  • 27 Jun 2026 11:33 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja - Hari Raya Kuningan menjadi salah satu hari suci umat Hindu Bali yang sarat dengan nilai spiritual dan filosofi kehidupan. Dalam rangkaian persembahan saat Kuningan, nasi kuning menjadi salah satu sarana upakara yang memiliki makna mendalam, bukan sekadar hidangan, tetapi simbol doa dan ungkapan rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Nasi kuning yang digunakan dalam sarana persembahan Kuningan melambangkan kemakmuran, kesejahteraan, serta rasa terima kasih umat Hindu atas anugerah kehidupan, sandang, dan pangan yang diberikan Tuhan. Warna kuning yang menyerupai emas dimaknai sebagai simbol keagungan, kesucian, dan harapan akan kehidupan yang penuh berkah.

Dalam filosofi Hindu Bali, warna kuning memiliki nilai sakral yang berkaitan dengan cahaya kebaikan dan kemuliaan. Kehadiran nasi kuning dalam banten Kuningan menjadi pengingat agar manusia selalu menjaga keseimbangan hidup, bersyukur, serta menjalankan dharma atau kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.

Selain sebagai simbol kemakmuran, nasi kuning juga menjadi wujud suksmaning idep atau rasa terima kasih yang tulus dari umat kepada Hyang Widhi atas segala berkah yang diterima. Persembahan ini menggambarkan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Tuhan.

Hari Raya Kuningan sendiri dirayakan sepuluh hari setelah Galungan dan menjadi momen penghormatan serta persembahan kepada leluhur. Berbagai sarana upacara seperti tamiang, endongan, tebog, dan nasi kuning memiliki simbol masing-masing yang mengandung pesan spiritual bagi umat Hindu Bali.

Melalui nasi kuning dalam perayaan Kuningan, umat Hindu tidak hanya menghadirkan sebuah persembahan, tetapi juga menyampaikan doa, harapan, dan pengingat untuk selalu hidup dalam rasa syukur, kedamaian, serta keseimbangan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....