Perjuangan Menundukkan Musuh di dalam Diri menuju Kemenangan Dharma

  • 15 Jun 2026 14:59 WIB
  •  Singaraja

RRI.CO.ID, Singaraja – Di balik kemeriahan pemasangan penjor dan tradisi uniknya, esensi terdalam dari perayaan Hari Raya Galungan dan Kuningan adalah sebuah perjuangan spiritual untuk mengalahkan musuh dalam diri. Manggala Pasraman Pinandita Brahma Vidya Samgraha, Ida Bhawati Hermawan Tangkas mengatakan, secara universal, Galungan dirayakan sebagai hari kemenangan Dharma (kebenaran) melawan Adharma (ketidakbenaran). Namun, esensi pertempuran tersebut sesungguhnya merujuk pada ruang personal setiap insan.

“Galungan menjadi momentum penting bagi umat untuk melakukan introspeksi diri, membersihkan jiwa, mengalahkan ego pribadi, serta menaklukkan nafsu duniawi yang kerap memicu konflik batin,” kata Ida Bhawati kepada RRI.

Dalam ajaran agama Hindu, pertempuran abadi yang paling sulit bukanlah melawan kekuatan dari luar, melainkan menaklukkan ego dan sifat-sifat buruk internal. Hal ini selaras dengan petikan Kekawin Ramayana Sargah 1 bait 4, “Rāgādi musuh maparö, ri hati ya tonggwanya tan madoh ring awak,” yang menegaskan bahwa musuh sejati itu berada sangat dekat, bahkan ada di dalam diri kita sendiri.

Secara rinci, teks tersebut memaparkan beberapa musuh internal manusia yang harus dikendalikan, di antaranya: Sad Ripu (Enam jenis musuh yang ada dalam diri manusia), Sad Atatayi (Enam jenis pembunuhan), Sapta Timira (Tujuh kegelapan atau kemabukan perilaku), dan Catur Mada (Empat jenis kemabukan). Rangkaian suci yang dimulai dari Tumpek Wariga hingga Buda Kliwon Pahang ini mengisyaratkan umat untuk senantiasa mengendalikan indria dan melakukan introspeksi diri (Mulat Sarira) agar tetap dijalan Dharma.

Dalam Manawa Dharmasastra (Manu Smrti) Adhyaya VIII sloka 15, “Dharma eva hato hanti, dharmo rakṣati rakṣitaḥ.” Artinya: Dharma yang dihancurkan akan menghancurkan (pelakunya), dan Dharma yang dijaga akan menjaga (pelakunya).

Selain menjadi ajang meningkatkan kualitas spiritual dan memperkuat iman kepada Tuhan Yang Maha Esa, Galungan juga diwarnai dengan ekspresi rasa syukur atas segala anugerah kemakmuran. Manifestasi rasa syukur ini secara visual terlihat jelas dari deretan penjor yang menghiasi jalanan di Bali.

“Di dalam sebatang penjor terkandung berbagai unsur hasil bumi, meliputi Pala Bungkah, Pala Gantung, Pala Wija dan Pala Medon. Itu kita persembahkan kembali kepada Sang Pencipta, sebagai ungkapan puji Syukur,” ujar Ida Bhawati.

Tak kalah penting, Hari Raya Galungan juga memuat dimensi penghormatan yang tinggi kepada para leluhur. Umat Hindu meyakini bahwa pada hari besar ini, roh para leluhur turun ke muka bumi untuk mengunjungi keluarga serta keturunannya (sentana). Kehadiran spiritual ini disambut hangat oleh keluarga dengan doa-doa keselamatan dan persembahan terbaik di merajan atau sanggah keluarga.

Berdasarkan catatan sejarah dalam Lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Buda Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 (sekitar 882 Masehi). Perjalanan tradisi ini sempat mengalami pasang surut, perayaan sempat dihentikan selama kurang lebih 23 tahun pada masa pemerintahan Raja Sri Ekajaya sebelum akhirnya dilaksanakan kembali pada tahun 1126 Saka saat Sri Jayakasunu naik takhta menjadi Raja. Hingga kini, perayaan hari raya ini diwarnai berbagai tradisi unik di berbagai daerah di Bali, seperti Ngelawang Barong, Perang Jempana, Makotek, hingga Ngurek.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....