Sate Gayah Mahakarya Seni dalam Upacara Yadnya di Bali
- 24 Jun 2026 21:47 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja – Sate Gayah (juga dikenal sebagai Sate Renteng) adalah rangkaian berbagai jenis sate dan olahan daging babi tradisional Bali yang disusun sedemikian rupa menjadi simbol alam semesta.
Berdasarkan studi akademis yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Rupa Gayah dalam Ritual Masyarakat Hindu, struktur fisik sate ini tidak dibuat sembarangan, melainkan sebuah simbol kosmologi Hindu
Penempatan komponennya pun mengikuti konsep Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa penguasa penjuru mata angin). Setiap jenis sate kecil yang ditancapkan pada badan Gayah, seperti sate lembat, sate asem, dan sate kablet, memiliki jumlah tusuk (urip) yang disesuaikan dengan angka sakral masing-masing dewa.
Tidak hanya melambangkan alam semesta (Bhuana Agung), Sate Gayah juga merupakan cerminan dari tubuh manusia itu sendiri (Bhuana Alit). Sate Gayah Simbol Tri Loka (Tiga Lapisan Alam): Bagian Bawah (Bhur Loka) terdiri dari alas Gayah dan sate-sate tertentu yang menyimbolkan alam bawah. Bagian Tengah (Bhuwah Loka) yaitu bagian tubuh Gayah yang menyimbolkan alam manusia. Bagian Puncak (Swah Loka) menyerupai bentuk Meru (gunung) merupakan simbol alam para Dewa.
Menurut Jro Ketut Untara, Sarati Banten asal Banjar Tegal, Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali, sate gayah merupakan pelengkap dari banten sorohan bebangkit.
Berdasarkan tingkat upacaranya, ada disebut dengan Gayah Sari, Gayah Pupus, Gayah Utuh, dan Gayah Agung. Gayah Utuh, terdiri dari semua bagian babi secara lengkap (kepala, keempat kaki, ekor) yang masih utuh berisi daging dan kulitnya. Susunan gayah yang pada bagian puncaknya menyerupai bentuk payung dan terbuat dari jaringan perut babi disebut Gayah Pupus.
Gayah Sari terbuat dari bahan dasar daging dan kulit babi yang umumnya digunakan sebagai pelengkap upacara Yadnya tingkat nista (sederhana) hingga madya (menengah). Sedangkan Gayah Agung menggunakan susunan lengkap berbagai jenis sate dan hiasan yang melambangkan alam semesta, biasanya berbentuk menyerupai kayonan dan dilengkapi dengan dangsil bertingkat (7, 9, atau 11).
“Kalau ada kepala dan ekor babi, disebut gayah utuh, sedangkan yang tanpa kepala babi disebut gayah pupus,” ujar Jro Ketut Untara.
Sebagai pelengkap utama upacara keagamaan, sate ini memiliki tiga fungsi dan kelompok utama yaitu: Sate Pengideran, Sate Pengurip-urip dan Sate Hiasan.
Sate Pengideran melambangkan senjata dari Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa penjaga arah mata angin) contohnya: Sate Pras, Sate Cakra, Sate Gada, dan Sate Gunting. Sate Pengurip-urip berfungsi sebagai hiasan pelengkap untuk meramaikan bentuk dan melambangkan proses penciptaan, seperti: Sate Lembat, Sate Kablet, dan Sate Asem. Sate Hiasan simbol isi bumi (Bhuana Agung), seperti sate Kuung Tunggal, sate Ancak/Bingin dan Sate Jepit Balung.
Sate Gayah bukan sekadar pelengkap upacara, melainkan sebuah mahakarya seni ritual yang merefleksikan kedalaman filosofi kosmologi Hindu dan kekayaan tradisi budaya di Bali.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....