Soma Ribek, Hari Syukur Pangan Umat Hindu Bali
- 05 Apr 2026 14:58 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja: Soma Ribek merupakan salah satu hari suci yang dirayakan umat Hindu di Bali setiap Senin Pon Wuku Sinta, tepat dua hari setelah Hari Raya Saraswati. Perayaan ini menjadi lanjutan dari rangkaian hari suci yang tidak hanya berfokus pada turunnya ilmu pengetahuan, tetapi juga bagaimana ilmu tersebut dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari.
Secara etimologis, kata Soma berarti hari Senin, sedangkan Ribek bermakna penuh atau melimpah. Dengan demikian, Soma Ribek dapat dimaknai sebagai hari Senin yang penuh dengan anugerah, khususnya berkaitan dengan pangan dan kemakmuran hidup. Momentum ini menjadi pengingat bahwa kesejahteraan tidak hanya berasal dari pengetahuan, tetapi juga dari kemampuan manusia dalam mengelola sumber daya yang diberikan oleh alam.
Dalam pelaksanaannya, Soma Ribek identik dengan pemujaan terhadap Sang Hyang Sri Amrta atau Dewi Sri, yang diyakini sebagai manifestasi Tuhan dalam aspek kemakmuran dan sumber pangan. Umat Hindu percaya bahwa Dewi Sri bersemayam di tempat penyimpanan padi seperti lumbung atau jineng, sehingga persembahyangan banyak dilakukan di area tersebut. Melalui upacara ini, umat mengungkapkan rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah serta memohon keberkahan agar kebutuhan pangan tetap tercukupi.
Tradisi ini juga menjadi bentuk penghormatan terhadap para petani sebagai pahlawan pangan yang berperan penting dalam menjaga ketersediaan bahan makanan. Nilai-nilai ini menunjukkan bahwa hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan harus selalu dijaga agar tercipta keseimbangan hidup.
Soma Ribek juga kerap disebut sebagai Hari Pangan dalam konteks budaya Bali, karena mengandung pesan kuat tentang pentingnya menjaga ketahanan pangan. Dalam kehidupan modern yang serba cepat, kesadaran untuk menghargai makanan sering kali mulai berkurang, bahkan tidak jarang terjadi pemborosan.
Melalui Soma Ribek, umat diajak untuk lebih bijak dalam mengelola dan mengonsumsi makanan. Selain itu, hari ini juga dimaknai sebagai waktu untuk mengimplementasikan ilmu pengetahuan yang telah dipuja saat Saraswati, sehingga tidak berhenti pada tataran teori, melainkan diwujudkan dalam tindakan nyata yang membawa kesejahteraan. Dengan kata lain, ilmu dan pangan menjadi dua hal yang saling melengkapi dalam mencapai kehidupan yang seimbang.
Ada berbagai tradisi dan pantangan yang dijalankan saat Soma Ribek sebagai bentuk penghormatan terhadap kesucian hari tersebut. Umat biasanya menghaturkan sesaji atau banten di dapur, tempat penyimpanan beras, maupun lumbung padi sebagai simbol rasa syukur.
Di sisi lain, terdapat sejumlah larangan seperti tidak menumbuk padi, tidak menjual beras, serta menghindari aktivitas yang dapat mengurangi stok pangan secara signifikan. Bahkan, di beberapa daerah, masyarakat juga tidak diperkenankan memanen hasil pertanian atau memperjualbelikan bahan pangan.
Selain itu, ada pula kepercayaan untuk tidak tidur siang agar tetap produktif dan menghormati Sang Hyang Pramesti Guru yang sedang melakukan yoga. Seluruh rangkaian tradisi ini menegaskan bahwa Soma Ribek bukan sekadar ritual, melainkan refleksi mendalam tentang pentingnya menjaga keberlanjutan pangan, menghormati alam, serta membangun kesadaran untuk hidup lebih bijaksana dan penuh rasa syukur.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....