Debu, Bukit yang Terbelah, dan Doa Tolak Bala di Pegayaman
- 01 Okt 2026 11:24 WIB
- Singaraja
RRI.CO.ID, Singaraja - Lantunan adzan serentak, menggema menembus debu proyek ke segala penjuru mata angin. Pembangunan infrastruktur berskala masif sering kali tidak hanya menggeser tanah dan bebatuan, tetapi juga mengusik ruang sosiologis dan psikologis warganya.
Realitas inilah yang terekam di Desa Pegayaman, Rabu, 30 September 2026. Proyek ambisius shortcut Mengwitani-Singaraja—jalur yang kelak memangkas jarak waktu Bali Selatan dan Utara—membawa efek yang tak terduga. Sejumlah siswa sekolah dasar (SD) di kawasan tersebut mengalami rentetan kerauhan (kesurupan).
Ratusan warga yang dipimpin oleh Penghulu Imam Desa, H. Abdul Gofar Ismail, lantas turun ke salah satu titik proyek di Banjar Dinas Kubu untuk menggelar ritual doa tolak bala. Mereka membentuk formasi, melantunkan tahlil, dan berjalan kaki memutari medan terjal yang menanjak dan menurun, menyusuri luka-luka tanah yang sedang digerus mesin-mesin proyek.
Bagi tokoh masyarakat setempat, Ketut Muhammad Suharto, pesan dari ritual ini sangat jelas: ini bukan bentuk perlawanan terhadap modernisasi atau program pemerintah. Masyarakat Pegayaman memahami bahwa pembangunan fisik yang masif harus diimbangi dengan laku spiritual. Mereka mendoakan keselamatan para pekerja, kemulusan proyek, sekaligus memulihkan rasa aman anak-anak desa.
Rangkaian foto berikut ini merekam wajah kearifan lokal Pegayaman dalam merawat keseimbangan—negosiasi antara proyek ambisius dan lamat doa di atas bukit.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....