Undiksha Hadirkan Simfoni Sanghita untuk Tumbuhkan Kepercayaan Diri Anak Autism
- 01 Sep 2026 09:28 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Universitas Pendidikan Ganesha meluncurkan Program Simfoni Sanghita yang menggabungkan Tari Sanghita dengan musik gerantang Bali untuk anak autisme di Yayasan Peduli Autisme Bali.
- Program ini dirancang untuk membantu anak autisme mengembangkan kepercayaan diri, meningkatkan interaksi dengan lingkungan, dan menunjukkan potensi mereka melalui kegiatan seni.
- Program lahir dari hasil pengamatan bahwa anak-anak masih membutuhkan arahan dalam kegiatan, kurang berani menunjukkan kemampuan, namun memiliki ketertarikan kuat terhadap seni tari.
RRI.CO.ID, Singaraja - Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) melalui Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) menghadirkan Program Simfoni Sanghita di Yayasan Peduli Autisme Bali. Program ini memadukan Tari Sanghita dengan musik gerantang Bali sebagai kegiatan seni yang dirancang untuk memberikan ruang bagi anak autisme dalam mengembangkan kepercayaan diri, berinteraksi dengan lingkungan, serta menunjukkan potensi yang mereka miliki.
Program Simfoni Sanghita lahir dari hasil pengamatan terhadap kondisi dan kebutuhan anak-anak di Yayasan Peduli Autisme Bali. Dalam aktivitas sehari-hari, masih ditemukan anak yang membutuhkan arahan pendamping ketika mengikuti kegiatan, kurang berani menunjukkan kemampuan, serta belum optimal dalam berinteraksi dengan teman. Di sisi lain, anak-anak memiliki ketertarikan terhadap kegiatan seni, terutama seni tari. Ketertarikan tersebut menjadi potensi yang kemudian dikembangkan oleh tim melalui kegiatan seni yang lebih terarah, menyenangkan, dan sesuai dengan karakteristik peserta.
Melalui program ini, seni tidak hanya ditempatkan sebagai kegiatan untuk mempelajari gerakan atau memainkan alat musik, tetapi juga sebagai sarana untuk memberikan pengalaman kepada anak agar berani mencoba, mengikuti kegiatan bersama, mengekspresikan diri, dan menunjukkan kemampuan di hadapan orang lain. Pemilihan Tari Sanghita dan musik gerantang juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan serta melestarikan seni budaya Bali melalui kegiatan yang dapat diikuti oleh anak autisme.
Program ini dilaksanakan oleh Tim PKM-PM Undiksha yang diketuai oleh Ni Putu Indriani bersama Ni Made Riska Widiastuti, Ni Made Dwijasari, Ni Putu Novita Marayani, dan Darren Andrew Saputra, dengan bimbingan Ni Luh Putu Agetania, S.Pd., M.Pd. Tim merancang kegiatan dengan menggabungkan pembelajaran tari dan musik dalam satu rangkaian aktivitas yang dilakukan secara bertahap.
Dalam pembelajaran musik gerantang, tim memanfaatkan teknologi Abakod sebagai panduan visual. Penggunaan Abakod membantu peserta mengenali nada dan mengikuti pola permainan dengan lebih terstruktur. Dukungan visual tersebut disesuaikan dengan kebutuhan peserta agar proses memahami instruksi musik menjadi lebih mudah. Dengan demikian, teknologi tidak berdiri sendiri, tetapi digunakan sebagai pendukung dalam proses pembelajaran seni.
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan tahap persiapan dan pengenalan program kepada mitra. Selanjutnya, peserta mengikuti pelatihan dan pendampingan Tari Sanghita serta musik gerantang. Proses pembelajaran menggunakan metode Linaksi yang terdiri atas Linaksi 1 (Lihat), Linaksi 2 (Alun), Linaksi 3 (Aksi), dan Linaksi 4 (Harmoni). Tahapan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenali kegiatan terlebih dahulu, mengikuti contoh, mencoba secara langsung, kemudian membangun keterampilan melalui latihan bersama.
Pada pembelajaran Tari Sanghita, anak-anak dilatih mengikuti rangkaian gerakan secara bertahap. Mereka belajar mengingat gerakan, mengikuti arahan, bergerak bersama, serta menyesuaikan diri dengan peserta lainnya. Sementara itu, pada pembelajaran musik gerantang, peserta belajar mengikuti irama, tempo, dan pola permainan. Kedua kegiatan tersebut kemudian dipadukan sehingga anak-anak tidak hanya belajar secara individual, tetapi juga memperoleh pengalaman untuk bekerja sama dalam sebuah pertunjukan.
Puncak Program Simfoni Sanghita ditandai dengan pementasan Tari Sanghita yang diiringi musik gerantang Bali. Pementasan menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk menunjukkan hasil latihan di hadapan guru, pendamping, orang tua, dan masyarakat. Momen tersebut tidak hanya menjadi penutup rangkaian kegiatan, tetapi juga menjadi ruang bagi anak untuk membuktikan bahwa mereka mampu tampil dan berpartisipasi dalam kegiatan seni apabila diberikan kesempatan serta pendampingan yang sesuai.
Selain pelaksanaan kegiatan, Tim PKM-PM Undiksha juga menyiapkan buku pedoman mitra sebagai bagian dari keberlanjutan program. Buku tersebut dapat digunakan oleh pihak Yayasan Peduli Autisme Bali sebagai panduan dalam melanjutkan latihan Tari Sanghita dan musik gerantang. Keberlanjutan kegiatan juga diarahkan melalui kegiatan seni rutin dan keterlibatan kader budaya dari lingkungan yayasan.
Melalui program ini, Tim PKM-PM Undiksha berharap Simfoni Sanghita dapat terus berkembang sebagai kegiatan seni yang berkelanjutan di Yayasan Peduli Autisme Bali. Program tersebut sekaligus menjadi contoh bahwa pelestarian budaya Bali dapat dilakukan secara inklusif dengan memberikan kesempatan kepada setiap anak, termasuk anak autisme, untuk belajar, berkarya, dan tampil di ruang publik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....