Kolaborasi Keluarga Jadi Kunci Perempuan Menyeimbangkan Karier dan Kehidupan

  • 25 Agt 2026 10:42 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Perempuan yang ingin berkiprah di ruang publik masih menghadapi tantangan dalam membagi peran antara pekerjaan, keluarga, dan kehidupan sosial.
  • Dukungan keluarga dan pembagian tanggung jawab yang lebih setara menjadi kunci agar perempuan dapat mengembangkan karier tanpa terbebani peran domestik secara sepihak.
  • Dialog Pro 1 RRI Singaraja dengan tema 'Efektivitas Pengarusutamaan Gender dalam Meningkatkan Partisipasi Perempuan' diselenggarakan pada Senin, 24 Agustus 2026.

RRI.CO.ID, Singaraja - Perempuan yang ingin berkiprah lebih luas di ruang publik masih menghadapi tantangan dalam membagi peran antara pekerjaan, keluarga dan kehidupan sosial. Dukungan keluarga serta pembagian tanggung jawab yang lebih setara dinilai menjadi salah satu kunci agar perempuan dapat mengembangkan karier tanpa harus terbebani peran domestik secara sepihak.

Hal tersebut dibahas dalam Dialog Pro 1 RRI Singaraja bertajuk “Efektivitas Pengarusutamaan Gender dalam Meningkatkan Partisipasi Perempuan”, yang berlangsung di Studio Pro 1 RRI Singaraja, Senin, 24 Agustus 2026.

Penyuluh Agama Hindu, Ni Putu Dewi Pradnyan, S.Fil., M.Ag., mengatakan perempuan kerap menghadapi dilema ketika memilih untuk meningkatkan karier atau mengambil peran lebih besar di masyarakat. Sebab, tanggung jawab domestik masih sering dianggap sebagai tanggung jawab utama perempuan.

Menurut Dewi, kondisi tersebut perlu diubah melalui komunikasi dan kolaborasi dalam keluarga. Pembagian pekerjaan rumah tangga tidak seharusnya hanya dibebankan kepada perempuan, terutama ketika perempuan juga memiliki tanggung jawab di ruang publik.

Ia menambahkan, prinsip kesetaraan juga berlaku bagi laki-laki. Setiap individu perlu mampu menempatkan diri sesuai perannya, baik di tempat kerja, keluarga maupun masyarakat.

“Ketika di kantor kita menjadi siapa, di rumah menjadi siapa, di masyarakat kita menjadi siapa. Semua peran itu perlu dijalankan dengan penuh tanggung jawab, tetapi bukan berarti seluruh beban harus ditanggung oleh satu pihak saja. Karena itu, diperlukan komunikasi dan kerja sama agar setiap anggota keluarga dapat saling mendukung sesuai peran dan kebutuhannya,” jelas Dewi.

Sementara itu, Mahasiwa IAHN Mpu Kuturan, Ni Luh Putu Sri Widiari menilai komunikasi dengan pasangan menjadi hal penting bagi perempuan yang ingin mengembangkan karier. Dukungan keluarga, pembagian peran dan komitmen bersama diperlukan agar tanggung jawab pekerjaan maupun keluarga dapat dijalankan secara kolaboratif.

Menurut Widiari, istilah perempuan sebagai sosok yang mampu melakukan banyak hal atau multitasking perlu dilihat secara kritis. Di satu sisi menjadi kemampuan, tetapi di sisi lain dapat menunjukkan bahwa terlalu banyak tanggung jawab masih dibebankan kepada perempuan.

Karena itu, pengarusutamaan gender tidak hanya membutuhkan kebijakan yang membuka ruang bagi perempuan, tetapi juga perubahan pola pikir di keluarga dan masyarakat agar perempuan maupun laki-laki dapat menjalankan perannya secara adil dan saling mendukung.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....