Hari Kedua MPLS, SD Tribaja Gelar Upanayana

  • 14 Jul 2026 16:09 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • SD Negeri 3 Banjar Jawa menyelenggarakan upacara Sisya Upanayana pada hari kedua MPLS Ramah 2026 yang bertepatan dengan perayaan Tilem Selasa, 14 Juli 2026.
  • Sisya Upanayana adalah upacara penyucian spiritual Hindu yang melibatkan siswa baru dan guru untuk memohon restu Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar pikiran menjadi tajam, bersih, dan siap menerima ilmu pengetahuan.
  • Prosesi Sisya Upanayana meliputi persembahyangan bersama, prosesi natab banten sebagai simbol pembersihan diri, serta penyematan Karawista dan Benang Tri Datu sebagai simbol penajaman pikiran dan kesiapan belajar.

RRI.CO.ID, Singaraja - SD Negeri 3 Banjar Jawa (Tribaja) menggelar upacara Upanayana di Padmasana pada hari kedua pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah 2026. Kegiatan digelar bertepatan dengan perayaan Tilem Selasa, 14 Juli 2026. Upacara diikuti oleh seluruh Guru dan pegawai SD Tribaja serta murid kelas 1 sampai 6 di sekolah setempat.

Di Bali upacara ini sering disebut Sisya Upanayana. Upacara ini lazim dilaksanakan oleh sekolah-sekolah Hindu (pasraman) atau sekolah umum sebagai tradisi penyambutan bagi siswa baru di tingkat TK, SD, SMP, hingga mahasiswa.

Sisya Upanayana adalah upacara penyucian spiritual umat Hindu bagi murid baru untuk memohon restu Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan). Ritual ini menandai kesiapan mental dan spiritual siswa dalam memasuki masa brahmacari (menuntut ilmu) agar pikiran menjadi tajam, bersih, dan siap menerima ajaran ilmu pengetahuan dengan baik.

Secara etimologi, Sisya berarti murid, dan Upanayana berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti mendekatkan atau menerima. Dalam konteks tradisi Hindu di Nusantara, khususnya di Bali, upacara ini umumnya dilaksanakan di sekolah (seperti SMP, SMA, atau SMK).

Tidak hanya siswa, upacara ini juga diikuti oleh para guru agar kedua belah pihak diberikan kesucian dan ketulusan dalam proses belajar mengajar. Adapun tujuan dan makna spiritual upacara ini adalah membersihkan pikiran, perkataan dan perbuatan siswa dari energi negatif (bhuta kala) agar siap memasuki lingkungan belajar yang baru.

Upanayana juga bertujuan untuk memohon anugerah Weda/Saraswati agar siswa memiliki kecerdasan intelektual dan spiritual. Selain itu juga untuk menumbuhkan rasa bakti kepada Catur Guru (Guru Swadyaya, Guru Wisesa, Guru Pengajian, dan Guru Rupaka).

Prosesi Sisya Upanayana biasanya dipimpin oleh seorang Sulinggih (Pendeta) atau Pemangku. Rangkaian kegiatan yang dilakukan meliputi persembahyangan bersama oleh seluruh warga sekolah yang melakukan Tri Sandya dan memohon keselamatan di Padmasana sekolah.

Proses berikutnya siswa melakukan prosesi natab banten sebagai simbol pembersihan diri. Dalam Upanayana siswa disematkan Karawista dan Benang Tri Datu. Karawista merupakan simbol penajaman pikiran sementara benang Tri Datu (merah, putih, hitam) sebagai simbol pengikat diri dan kesiapan belajar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....