Sekolah Inklusif Dorong Kemandirian Anak Berkebutuhan Khusus

  • 16 Mar 2026 17:19 WIB
  •  Singaraja
Poin Utama
  • Sekolah
  • Inklusif
  • Anak
  • Anak Berkebutuhan Khusus

RRI.CO.ID, Singaraja – Pendidikan inklusif tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik, tetapi juga menekankan pengembangan kemandirian bagi anak berkebutuhan khusus agar mampu menjalani kehidupan sehari-hari secara mandiri.

Pengelola sekolah inklusif CIMD (Yayasan Cahaya Impian Masa Depan), Luh Ayu Susila Dewi, menjelaskan bahwa dalam proses pembelajaran, sekolah tidak hanya menyesuaikan kurikulum, tetapi juga menyusun program pembelajaran individual bagi siswa disabilitas.

Program tersebut disusun berdasarkan kemampuan, tantangan, serta potensi masing-masing anak, kemudian dievaluasi secara berkala.

“Kami membuat program pembelajaran individual untuk setiap anak berkebutuhan khusus. Program ini disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan mereka, lalu dievaluasi setiap enam bulan,” ujar Ayu.

Dalam praktiknya, sekolah lebih banyak menekankan kemampuan dasar yang mendukung kemandirian anak, seperti merawat diri, membantu pekerjaan rumah, hingga aktivitas sederhana sehari-hari.

“Kami mengajarkan hal-hal sederhana seperti memasak nasi di rice cooker, menyapu, atau mengancingkan baju. Bagi sebagian orang mungkin terlihat mudah, tetapi bagi anak disabilitas itu perlu latihan yang konsisten,” katanya.

Menurut Ayu, keberhasilan pendidikan inklusif tidak hanya diukur dari nilai akademik, tetapi dari kemampuan anak untuk hidup mandiri dan berkontribusi dalam kehidupan sehari-hari.

Selain itu, sekolah juga berupaya menggali bakat dan potensi yang dimiliki siswa. Setiap anak diyakini memiliki kemampuan unik yang dapat dikembangkan.

Ia mencontohkan salah satu siswa yang memiliki kesulitan membaca dan menulis, namun memiliki kemampuan luar biasa dalam memainkan gamelan.

“Kami menemukan ada anak yang kesulitan membaca dan menulis, tetapi sangat cepat belajar memainkan gamelan. Potensi seperti itu yang kami optimalkan,” ucapnya.

Meski demikian, pengelolaan sekolah inklusif tidak lepas dari sejumlah tantangan, terutama keterbatasan tenaga pendidik yang memiliki kompetensi dalam mendampingi anak disabilitas.

Selain itu, kolaborasi antara sekolah dan orang tua juga menjadi faktor penting dalam keberhasilan pendidikan inklusif.

“Kolaborasi dengan orang tua sangat penting. Pola asuh di rumah dan di sekolah harus selaras agar perkembangan anak bisa optimal,” kata Ayu.

Dengan pendekatan yang tepat serta dukungan berbagai pihak, pendidikan inklusif diharapkan mampu memberikan ruang yang lebih luas bagi anak berkebutuhan khusus untuk berkembang dan meraih masa depan yang lebih baik.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....