Sekolah Inklusif Buka Akses Pendidikan bagi Anak Disabilitas di Buleleng
- 16 Mar 2026 17:01 WIB
- Singaraja
Poin Utama
- Sekolah
- Inklusif
- Pendidikan
- Disabilitas
- Layanan
RRI.CO.ID, Singaraja – Pendidikan inklusif menjadi salah satu upaya penting untuk memastikan seluruh anak mendapatkan hak pendidikan tanpa diskriminasi. Konsep ini kini mulai berkembang di Kabupaten Buleleng dengan hadirnya sejumlah sekolah inklusif yang menerima siswa dengan berbagai kondisi, termasuk anak berkebutuhan khusus.
Tim Unit Layanan Disabilitas Kabupaten Buleleng, Luh Ayu Susila Dewi, menjelaskan bahwa sekolah inklusif merupakan lembaga pendidikan yang menerima peserta didik tanpa membedakan kondisi fisik, mental, maupun latar belakangnya.
Menurutnya, perbedaan utama sekolah inklusif dengan sekolah reguler terletak pada pendekatan pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa.
“Sekolah inklusif adalah sekolah yang menerima peserta didik tanpa terkecuali, termasuk anak dengan disabilitas. Kurikulum dasarnya sama, tetapi metode pembelajarannya dimodifikasi agar anak-anak berkebutuhan khusus tetap bisa belajar bersama anak lainnya,” ujar Ayu.
Ia mengatakan, modifikasi kurikulum dilakukan agar materi pelajaran tidak terlalu berat bagi siswa disabilitas. Penyesuaian tersebut bisa berupa metode pengajaran, cara penyampaian materi, hingga sistem penilaian yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak.
Di Kabupaten Buleleng sendiri, pendidikan inklusif dinilai mulai berkembang. Pemerintah daerah melalui Dinas Pendidikan telah menyediakan guru pendamping khusus yang ditempatkan di sejumlah sekolah.
“Sekarang sudah ada guru pendamping khusus yang disediakan per kecamatan. Ini penting agar anak-anak berkebutuhan khusus tidak perlu pergi jauh ke sekolah luar daerah,” katanya.
Dengan adanya sekolah inklusif yang berada lebih dekat dengan tempat tinggal, diharapkan anak-anak disabilitas dapat lebih mudah memperoleh akses pendidikan.
Selain itu, keberadaan sekolah inklusif juga menjadi solusi bagi anak berkebutuhan khusus yang sebelumnya tidak bersekolah karena keterbatasan jarak menuju Sekolah Luar Biasa (SLB).
Ayu menambahkan, saat ini jumlah siswa di sekolah yang dikelolanya telah mencapai sekitar 100 orang, dengan komposisi sekitar 70 persen siswa berkebutuhan khusus dan 30 persen siswa umum.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa pendidikan inklusif semakin diterima oleh masyarakat sebagai sistem pendidikan yang memberikan kesempatan belajar yang setara bagi semua anak.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....