Memaafkan dalam Ajaran Hindu, Jalan Kedamaian Anak Muda

  • 14 Des 2025 16:38 WIB
  •  Singaraja

KBRN, Singaraja: Dalam kehidupan sehari-hari, manusia kerap lebih mudah tersulut emosi dibandingkan melapangkan hati untuk memaafkan. Rasa kecewa, marah, dan sakit hati sering kali disimpan terlalu lama, hingga tanpa disadari menjadi beban mental dan rohani.

Padahal, hampir seluruh ajaran agama menempatkan memaafkan sebagai jalan penting menuju kedamaian batin, termasuk dalam ajaran Hindu. Hal tersebut disampaikan oleh Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Buleleng, Ni Made Sumiasih dalam obrolan Spada yang membahas makna memaafkan yang kerap dilupakan, khususnya oleh generasi muda, ia menegaskan bahwa memaafkan sejatinya bukan untuk kepentingan orang lain, melainkan demi ketenangan diri sendiri.

“Dalam kehidupan ini, memaafkan bukan berarti kita kalah atau dirugikan. Justru dengan memaafkan, kita sedang menolong diri kita sendiri agar terbebas dari beban amarah dan luka batin,” ucap Nimade Sumiasih.

Menurutnya, dalam ajaran Hindu dikenal konsep kesama, yaitu sikap memaafkan dengan tulus, menerima keadaan, dan melepaskan kemarahan. Kesama bukan sekadar ucapan, melainkan proses batin untuk membersihkan pikiran dari emosi negatif yang dapat mengganggu keseimbangan hidup.

Ketika seseorang mampu menerima dan melepaskan amarah, maka ia tidak lagi terikat pada luka masa lalu yang membebani mental. Ia juga mengingatkan bahwa manusia memiliki kemampuan untuk menolong dirinya sendiri dari penderitaan melalui perbuatan baik.

Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam kitab Sara Samuscaya, yang menegaskan bahwa manusia disebut utama karena mampu membebaskan dirinya dari kesengsaraan melalui subha karma atau perbuatan baik. Memaafkan, lanjutnya, merupakan salah satu wujud nyata dari perbuatan baik tersebut.

“Ketika kita memaafkan, akan muncul ketenangan jiwa. Kita mulai memahami bahwa setiap peristiwa adalah bagian dari perjalanan karma yang harus dijalani dengan kesadaran dan kebijaksanaan,” katanya.

Namun dalam praktiknya, memaafkan kerap menjadi hal yang paling sulit dilakukan, terutama bagi anak muda yang masih memiliki ego kuat. Rasa gengsi, keinginan untuk merasa benar, hingga ketakutan dianggap lemah membuat seseorang enggan mengucapkan maaf atau memberi maaf.

Akibatnya, kemarahan justru semakin mengikat dan menjauhkan manusia dari sifat-sifat kebajikan. Untuk belajar memaafkan, Nimade Sumiasih menyarankan agar anak muda memulai dari penyucian pikiran, pengendalian emosi, dan penurunan ego.

Selain itu, keberterimaan terhadap diri sendiri juga menjadi kunci penting. Memaafkan diri atas kesalahan masa lalu, menurutnya, adalah langkah awal untuk mencapai kedamaian batin yang sejati.

Dalam ajaran Hindu, praktik spiritual seperti melukat juga dapat menjadi sarana membersihkan diri, tidak hanya secara fisik tetapi juga secara rohani. Melalui doa dan refleksi diri, seseorang diajak untuk menyerahkan kekecewaan dan luka batin kepada Tuhan, bukan meluapkannya di ruang publik yang justru dapat memperkeruh keadaan.

Dengan memaafkan, manusia diajak untuk berdamai dengan dirinya sendiri, mensyukuri setiap proses kehidupan, dan melangkah maju tanpa beban. Sebab, kedamaian sejati tidak lahir dari dendam yang dipelihara, melainkan dari hati yang mampu menerima dan melepaskan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....