Puncak Musim Kemarau Agustus 2026 di Papua , Papua Tengah, dan Papua Pegunungan

  • 14 Agt 2026 07:16 WIB
  •  Serui

RRI.CO.ID, Serui - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Papua memprediksi musim kemarau di Papua, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan mencapai puncaknya pada Agustus 2026. Kondisi ini dipengaruhi fenomena El Nino dengan intensitas kuat.

Berdasarkan pemantauan kondisi atmosfer hingga Juli Dasarian III 2026, ketiga wilayah tersebut telah memasuki musim kemarau sejak Juni Dasarian I. Musim kemarau diperkirakan berlangsung selama 7 hingga 16 dasarian atau sekitar dua hingga lima bulan.

BMKG Stasiun Klimatologi Papua mencatat indeks El Nino saat ini berada pada angka +1,59 dan berintensitas kuat. Fenomena tersebut diprediksi masih dapat berkembang hingga mencapai kategori sangat kuat. Sementara itu, fenomena Dipole Mode atau Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada fase netral dengan indeks +0,23. BMKG memprediksi IOD berpeluang memasuki fase positif pada September hingga Desember 2026.

Kepala Stasiun Klimatologi Papua melalui press release menyebut dinamika atmosfer tersebut berpotensi menekan curah hujan di Papua, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan.

“Kondisi ini memberikan dampak berupa pengurangan curah hujan yang mengakibatkan curah hujan rendah di wilayah Papua, Papua Tengah dan Papua Pegunungan,” demikian keterangan dalam Press Release BMKG Stasiun Klimatologi Papua.

Analisis curah hujan Juli 2026 menunjukkan sebagian besar wilayah berada pada kategori rendah hingga menengah, dengan curah hujan berkisar 21 hingga 200 milimeter per bulan. Sifat hujan juga didominasi kategori bawah normal.

Sejumlah wilayah tercatat mengalami hari tanpa hujan kategori menengah, di antaranya Kabupaten Jayawijaya, Paniai, Kota Jayapura, dan Biak Numfor, dengan rentang 11 hingga 20 hari tanpa hujan.

BMKG mengingatkan rendahnya curah hujan selama musim kemarau dapat meningkatkan potensi munculnya titik panas atau hotspot yang berisiko memicu kebakaran hutan dan lahan.

Di sisi lain, suhu muka laut di sekitar Papua, Papua Tengah, dan Papua Pegunungan berada pada kondisi normal hingga lebih hangat. Perairan utara Papua diperkirakan tetap lebih hangat hingga Oktober 2026 dan berpotensi semakin menghangat pada November 2026 hingga Januari 2027.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan suplai uap air pembentuk awan. Namun, pengaruh El Nino tetap berpotensi menekan pembentukan hujan sehingga curah hujan di sejumlah wilayah diperkirakan tetap berkurang.

BMKG mengimbau pemerintah daerah, pemangku kepentingan, dan masyarakat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak musim kemarau. Di sektor pangan, masyarakat diminta menyesuaikan jadwal tanam dan memilih varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kondisi kering. Pengelolaan sumber daya air juga perlu diperkuat melalui perbaikan infrastruktur dan penggunaan air secara efisien untuk mengantisipasi potensi kekurangan air bersih.

BMKG juga meminta pemantauan kualitas udara ditingkatkan guna mengantisipasi dampak asap terhadap kesehatan, termasuk risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Kesiapsiagaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan juga perlu diperkuat selama periode musim kemarau 2026.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....