Petani Kakao Harap Perhatian Pemda Yapen
- 03 Mar 2026 16:03 WIB
- Serui
RRI.CO.ID, Serui - Potensi kakao kering di Kabupaten Kepulauan Yapen dinilai cukup besar. Namun akibat ketiadaan penampung hasil panen di daerah membuat petani kesulitan memasarkan kakao sehingga berdampak pada menurunnya semangat berkebun. Selasa 3 Maret 2026.
Salah satu petani kakao di Kampung Kainui II, Distrik Angkaisera Yeret Karubaba, mengaku telah menanam sekitar 500 pohon kakao sejak tahun 2018. Sayangnya, hingga kini belum tersedia penampung atau pembeli tetap di wilayah Kepulauan Yapen.
“Kalau mau jual, harus kita bawa ke Jayapura karena disana ada penampungnya. Sedangkan di sini belum ada,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pohon kakao umumnya mulai berbuah dalam usia tiga hingga empat tahun. Menurutnya, komoditas ini berpotensi menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan apabila dikelola dengan baik dan didukung sistem pemasaran yang jelas.
“Kami petani sebenarnya semangat untuk berkebun. Tapi kendalanya tidak ada penampung atau pembeli, sehingga kebun kakao kurang diperhatikan,” katanya.
Ia berharap dinas terkait dapat memberikan perhatian serius terhadap pengembangan kakao, mengingat harga kakao kering di pasaran cukup tinggi. "Saat ini, sebagian petani memilih menanam dan menjual sayuran untuk mendapatkan pemasukan yang lebih cepat".
Sementara itu, Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APKAI) Kabupaten Kepulauan Yapen, Gasper Samai, S.E., mengatakan minat masyarakat menanam kakao sebenarnya cukup tinggi. Ia menyebut, pada periode 1985 hingga 2000, banyak masyarakat Yapen yang menggantungkan hidup dari hasil kakao.
“Dulu masyarakat bisa membangun rumah dan membiayai sekolah anak dari hasil kebun kakao,” ujarnya.
Namun, memasuki tahun 2000, serangan hama Penggerek Buah Kakao (PBK) menyebabkan penurunan kualitas dan produksi, sehingga pendapatan petani merosot tajam. Gasper menjelaskan, sejak 2013 hama tersebut sudah tidak lagi menjadi ancaman utama. Akan tetapi, persoalan pemasaran yang belum teratasi membuat banyak petani kehilangan motivasi untuk kembali mengembangkan kakao.
“Kalau ada penampung di Yapen, pasti petani akan kembali semangat karena ada kepastian pasar,” tegasnya.
Ia juga mendorong penggunaan bibit unggul jenis “Criollo” yang dinilai lebih tahan terhadap hama dan sesuai dengan kondisi iklim di Yapen dibandingkan bibit Hibrida dari daerah lain seperti Jember dan Sulawesi.
Menurutnya, pada era 1980-an melalui program pemerintah Proyek Rehabilitasi dan Peremajaan Tanaman Ekspor (PRPTE), produksi kakao di Yapen pernah mencapai masa kejayaan. Bibit saat itu didatangkan dari Tanjung Morawa, Medan, Sumatera Utara.
“Kalau pemerintah ingin membangkitkan kembali kakao di Yapen, harus menggunakan bibit super yang cocok dengan iklim setempat” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....