PBB Peringatkan Dampak Buruk Ekonomi Digital terhadap Lingkungan

  • 12 Jul 2024 08:50 WIB
  •  Serui

KBRN,Serui:

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan bahwa dorongan menuju ekonomi digital justru dapat menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan. Dalam sebuah laporan, badan perdagangan dan pembangunan PBB, UNCTAD, menyebutkan bahwa meskipun digitalisasi mendorong pertumbuhan ekonomi global, dampak negatifnya terhadap lingkungan tidak bisa diabaikan.

Konsumsi Energi Besar dan Pemakaian Air

Ekonomi digital membutuhkan data center atau pusat data yang mengonsumsi energi listrik dalam jumlah besar serta membutuhkan banyak air sebagai pendingin. Dalam laporannya yang berjudul Digital Economy Report 2024, UNCTAD memberikan beberapa contoh dampak ekonomi digital terhadap lingkungan.

Emisi Karbon dan Konsumsi Bahan Mentah

Sektor teknologi informasi dan komunikasi mengeluarkan antara 0,69 hingga 1,6 gigaton karbon dioksida pada tahun 2020. Jumlah tersebut mewakili 1,5 hingga 3,2 persen emisi gas rumah kaca global, hampir setara dengan emisi dari sektor transportasi udara atau pelayaran. Misalnya, untuk memproduksi sebuah komputer seberat dua kilogram, dibutuhkan sekitar 800 kilogram bahan mentah.

Permintaan akan mineral penting seperti grafit, litium, dan kobalt diprediksi dapat melonjak sebesar 500 persen pada tahun 2050. Oleh karena itu, UNCTAD menyerukan adanya strategi berkelanjutan untuk melawan meningkatnya dampak buruk terhadap lingkungan, khususnya di negara-negara berkembang.

Peringatan dari Sekretaris Jenderal PBB

Sekjen PBB Antonio Guterres dalam laporan tersebut menyatakan bahwa digitalisasi terus bergerak dengan sangat cepat, mengubah kehidupan dan penghidupan. Namun, digitalisasi yang tidak diatur dapat memperburuk tantangan lingkungan dan iklim. Guterres mengingatkan bahwa ketergantungan yang semakin meningkat terhadap alat-alat digital berdampak langsung terhadap lingkungan, mulai dari penipisan bahan mentah, konsumsi air dan energi, polusi udara, hingga menghasilkan limbah.

Dampak Kecerdasan Buatan (AI) terhadap Lingkungan

Teknologi baru seperti kecerdasan buatan (AI) juga memperparah dampak lingkungan. Data mengenai seberapa cepat perkembangan AI berdampak terhadap lingkungan masih belum jelas. Sekretaris Jenderal UNCTAD, Rebeca Grynspan, meminta perusahaan teknologi terbesar di dunia untuk menjadi pionir dalam menghasilkan data standar.

Laporan Emisi Perusahaan Teknologi

Google melaporkan peningkatan emisi gas rumah kaca sebesar 48 persen selama lima tahun hingga 2023, yang disebabkan oleh penggunaan pusat data untuk mendukung operasi AI. Laporan keberlanjutan terbaru dari Microsoft juga menunjukkan peningkatan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada 2023 dibandingkan tahun 2020. Kedua perusahaan ini berjanji untuk menjadi netral karbon pada akhir dekade ini.

Dengan adanya laporan ini, diharapkan semua pihak bisa lebih bijaksana dalam mendorong ekonomi digital sambil tetap menjaga kelestarian lingkungan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....