Kebiasaan Minum Panas Setiap Hari, Seberapa Bahayanya untuk Kesehatan?
- 20 Sep 2026 19:09 WIB
- Serui
Poin Utama
- Suhu lebih penting daripada sekadar jenis minuman. IARC mendefinisikan minuman “very hot” sebagai minuman yang dikonsumsi pada suhu di atas 65°C dan mengaitkannya dengan kemungkinan peningkatan risiko kanker kerongkongan.
- Tidak perlu berhenti minum teh atau kopi. Kebiasaan yang lebih aman adalah menunggu minuman menjadi hangat atau lebih nyaman sebelum diminum dan menghindari minuman yang terasa membakar mulut atau tenggorokan.
RRI.CO.ID, Serui - Minum teh, kopi, susu, atau minuman herbal dalam keadaan panas sudah menjadi kebiasaan bagi banyak orang. Secangkir minuman hangat sering dianggap dapat memberikan rasa nyaman, terutama pada pagi hari atau ketika cuaca sedang dingin. Namun, muncul pertanyaan penting: seberapa berbahaya kebiasaan minum panas setiap hari bagi kesehatan?
Ternyata, persoalannya bukan sekadar jenis minuman yang dikonsumsi, tetapi juga seberapa panas minuman tersebut ketika diminum. Penelitian selama beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya hubungan antara konsumsi minuman yang sangat panas dan peningkatan risiko kanker esofagus atau kanker kerongkongan.
Lantas, apakah setiap minuman panas harus dihindari? Jawabannya tidak sesederhana itu.
Bukan Sekadar Minuman, Suhunya Juga Penting
Menurut International Agency for Research on Cancer (IARC), minuman yang dikonsumsi pada suhu di atas 65 derajat Celsius masuk dalam kategori “very hot beverages”. IARC mengklasifikasikan kebiasaan mengonsumsi minuman dengan suhu tersebut sebagai kemungkinan bersifat karsinogenik bagi manusia atau Group 2A.
Klasifikasi tersebut perlu dipahami dengan tepat. Label Group 2A bukan berarti setiap orang yang minum minuman panas akan terkena kanker. Kategori ini menunjukkan bahwa terdapat bukti yang cukup untuk menyatakan adanya kemungkinan hubungan antara paparan tersebut dan kanker, sementara besarnya risiko pada seseorang dapat dipengaruhi berbagai faktor lainnya. IARC juga menegaskan bahwa data yang ada belum dapat menentukan berapa banyak minuman sangat panas yang secara pasti akan menyebabkan kanker.
Dengan kata lain, minum teh atau kopi bukan otomatis menjadi masalah. Perhatian utama justru tertuju pada suhu minuman ketika dikonsumsi.
| Baca juga: Rahasia Hidup Sehat Erling Haaland |
Mengapa Minuman Terlalu Panas Bisa Berisiko?
Kerongkongan merupakan saluran yang membawa makanan dan minuman dari mulut menuju lambung. Ketika cairan dengan suhu sangat tinggi melewati saluran tersebut secara berulang, jaringan di dalamnya dapat mengalami iritasi dan kerusakan akibat panas.
Para peneliti menduga paparan panas berulang dapat menyebabkan kerusakan pada lapisan kerongkongan. Dalam jangka panjang, proses tersebut diduga dapat berkontribusi terhadap perubahan sel yang berkaitan dengan perkembangan kanker. Bukti dari penelitian manusia dan eksperimen juga mendukung adanya hubungan antara konsumsi minuman sangat panas dan kanker kerongkongan.
Karena itu, kebiasaan langsung meneguk minuman sesaat setelah diseduh sebaiknya mulai diperhatikan, terutama jika suhunya masih sangat tinggi hingga membuat mulut atau tenggorokan terasa terbakar.
Apakah Kopi dan Teh Harus Dihentikan?
Tidak. Tidak ada alasan untuk langsung menghilangkan teh atau kopi dari rutinitas hanya karena khawatir dengan isu minuman panas.
Hal yang lebih penting adalah menunggu hingga suhu minuman lebih nyaman sebelum diminum. IARC secara khusus membedakan risiko berdasarkan temperatur. Artinya, perhatian tidak hanya ditujukan pada jenis minuman, melainkan terutama pada kondisi ketika minuman tersebut dikonsumsi.
| Baca juga: Trik Cepat Tidur Pasca Nobar Piala Dunia! |
Bahkan, penelitian terbaru yang diberitakan Cancer Research UK pada September 2026 kembali menemukan adanya hubungan antara konsumsi minuman yang dilaporkan “hot” atau “very hot” dengan risiko karsinoma sel skuamosa pada kerongkongan. Namun, penelitian tersebut menggunakan kategori suhu berdasarkan laporan peserta dan tidak mengukur temperatur setiap minuman secara langsung. Karena itu, penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengetahui secara tepat suhu yang meningkatkan risiko pada populasi tertentu.
Temuan ini memperkuat satu pesan sederhana: tidak perlu takut menikmati minuman hangat, tetapi hindari meminumnya ketika masih terlalu panas.
Kebiasaan Minum Panas Setiap Hari yang Perlu Diubah
Jika Anda terbiasa minum kopi atau teh segera setelah diseduh, ada beberapa perubahan sederhana yang dapat dilakukan.
Pertama, berikan waktu beberapa menit agar minuman kehilangan panas berlebih. Jangan menjadikan kemampuan menahan panas di mulut sebagai patokan bahwa minuman sudah aman. Jika satu tegukan terasa membakar lidah atau tenggorokan, kemungkinan suhunya masih terlalu tinggi.
Kedua, biasakan menikmati minuman secara perlahan. Selain membuat suhu minuman lebih mudah dikontrol, cara ini juga membuat seseorang lebih peka terhadap rasa panas yang tidak nyaman.
Ketiga, jika tersedia, temperatur minuman dapat diperiksa menggunakan termometer makanan atau minuman. Angka 65°C dapat digunakan sebagai salah satu batas penting berdasarkan klasifikasi IARC mengenai minuman “very hot”.
Jangan Hanya Fokus pada Suhu Minuman
Risiko kanker kerongkongan tidak hanya berkaitan dengan minuman panas. Ada sejumlah faktor lain yang juga diketahui berhubungan dengan penyakit tersebut.
IARC dan sumber kesehatan kanker mencatat bahwa merokok dan konsumsi alkohol merupakan faktor risiko penting untuk kanker kerongkongan. Karena itu, mengurangi paparan faktor-faktor tersebut juga merupakan bagian penting dari upaya menjaga kesehatan.
Hal ini penting agar informasi mengenai minuman panas tidak disalahartikan. Seseorang tidak seharusnya berpikir bahwa selama tidak minum kopi atau teh panas, dirinya otomatis terbebas dari risiko kanker kerongkongan. Kesehatan dipengaruhi oleh kombinasi berbagai kebiasaan dan faktor risiko.
Jadi, Seberapa Bahaya Minum Panas Setiap Hari?
Kebiasaan minum panas setiap hari tidak otomatis berbahaya. Yang perlu diwaspadai adalah konsumsi minuman pada suhu yang sangat tinggi secara berulang, khususnya di atas 65°C.
Bukti ilmiah menunjukkan adanya hubungan antara minuman yang sangat panas dan kanker kerongkongan, tetapi besarnya risiko seseorang tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan kebiasaan minum teh atau kopi. IARC sendiri menyatakan bahwa proporsi kasus kanker kerongkongan yang dapat dikaitkan dengan konsumsi minuman sangat panas belum dapat diketahui.
Jadi, Anda tidak perlu panik dan berhenti menikmati minuman favorit. Perubahan kecil seperti menunggu minuman sedikit dingin sebelum diminum merupakan langkah sederhana yang masuk akal.
Pada akhirnya, prinsipnya cukup mudah: hangat boleh, terlalu panas sebaiknya dihindari. Menikmati teh, kopi, atau minuman lainnya tidak harus dilakukan dalam keadaan mengepul dan baru saja diseduh. Berikan waktu agar suhunya lebih nyaman sehingga kebiasaan minum setiap hari tetap menyenangkan sekaligus lebih bijak bagi kesehatan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....