Mengapa Kabut Asap Hambat Proses Pendaratan Pesawat? Ini Alasannya

  • 05 Okt 2026 08:38 WIB
  •  Serui

RRI.CO.ID, Serui - Kabut asap dapat mengganggu aktivitas penerbangan, terutama ketika pesawat memasuki tahap akhir menuju landasan. Kondisi udara yang dipenuhi asap membuat jarak pandang berkurang sehingga proses pendekatan dan pendaratan membutuhkan perhatian serta pertimbangan lebih ketat.

Bagi penerbangan, kondisi cuaca dan jarak pandang merupakan bagian penting dalam menentukan apakah sebuah pesawat dapat mendarat dengan aman. Jika kondisi di sekitar bandara tidak memenuhi batas operasional yang ditetapkan, pendaratan dapat ditunda atau dialihkan.

Berikut lima alasan kabut asap dapat menghambat proses pendaratan pesawat:

1. Jarak pandang menjadi terbatas

Partikel asap yang berada di udara dapat membuat pandangan dari dalam kokpit menjadi berkabut. Semakin tebal konsentrasi asap, semakin pendek jarak yang dapat dilihat secara jelas.

Kondisi ini menjadi penting ketika pesawat mulai mendekati landasan karena pilot membutuhkan referensi visual yang memadai untuk menyelesaikan proses pendaratan.

2. Landasan sulit terlihat dari udara

Ketika visibilitas menurun, marka, lampu landasan, maupun objek di sekitar bandara bisa menjadi lebih sulit dikenali. Padahal, informasi visual tersebut membantu pilot memastikan pesawat berada pada posisi dan jalur yang sesuai.

Jika referensi visual yang dibutuhkan tidak terlihat pada tahap yang dipersyaratkan, pendaratan dapat dihentikan dan pesawat kembali melakukan pendekatan.

3. Batas minimum pendaratan harus dipenuhi

Pesawat tidak bisa mendarat hanya berdasarkan keputusan pilot. Setiap operasi penerbangan memiliki prosedur dan batas minimum yang harus dipenuhi, termasuk terkait jarak pandang dan kondisi cuaca.

Apabila kondisi aktual berada di bawah batas yang berlaku untuk prosedur pendaratan tertentu, pilot dapat memilih untuk tidak meneruskan proses tersebut demi keselamatan.

4. Beban kerja pilot dapat meningkat

Visibilitas rendah membuat proses pendekatan menjadi lebih menantang. Ketika kondisi visual terbatas, awak pesawat harus lebih mengandalkan instrumen, sistem navigasi, komunikasi dengan pengatur lalu lintas udara, serta prosedur yang telah ditetapkan.

Kondisi tersebut membutuhkan koordinasi dan ketelitian tinggi, khususnya ketika pesawat berada semakin dekat dengan permukaan landasan.

5. Penerbangan bisa tertunda atau dialihkan

Kabut asap yang bertahan di sekitar bandara dapat berdampak langsung terhadap jadwal penerbangan. Pesawat yang sudah berada dalam perjalanan dapat menunggu kondisi membaik, melakukan pendekatan ulang, atau memilih bandara alternatif apabila pendaratan tidak memungkinkan.

Sementara itu, penerbangan yang belum berangkat juga dapat mengalami penundaan hingga kondisi operasional dinilai aman.

Keselamatan Menjadi Pertimbangan Utama

Gangguan akibat kabut asap menunjukkan bahwa kondisi atmosfer di sekitar bandara memiliki peran penting dalam keselamatan penerbangan. Bukan hanya kemampuan pesawat dan pilot yang menjadi pertimbangan, tetapi juga jarak pandang, prosedur pendaratan, fasilitas navigasi, serta kondisi operasional bandara.

Karena itu, ketika kabut asap menyebabkan jarak pandang berada di bawah batas yang dipersyaratkan, penundaan maupun pengalihan penerbangan merupakan langkah keselamatan yang wajar. Dalam dunia penerbangan, keputusan untuk tidak mendarat pada kondisi tertentu merupakan bagian dari upaya memastikan keselamatan penumpang, awak pesawat, dan operasional penerbangan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....