FOMO vs JOMO: Tren Baru Menikmati Hidup tanpa Takut Ketinggalan
- 07 Agt 2026 07:32 WIB
- Serui
RRI.CO.ID, Serui - Di era media sosial, hampir setiap hari kita disuguhkan dengan berbagai aktivitas menarik orang lain. Ada yang sedang liburan ke luar negeri, mencoba kafe viral, menghadiri konser, hingga meraih pencapaian dalam karier. Tanpa disadari, semua itu dapat memunculkan perasaan bahwa hidup orang lain terlihat lebih menyenangkan dibandingkan hidup kita sendiri.
Perasaan tersebut dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out), yaitu rasa takut tertinggal dari pengalaman, tren, atau momen yang sedang dialami orang lain. Namun, belakangan ini muncul sebuah konsep yang menjadi kebalikannya, yaitu JOMO (Joy of Missing Out). Alih-alih merasa cemas karena tidak ikut tren, JOMO mengajarkan kita untuk menikmati hidup dengan pilihan yang sesuai dengan diri sendiri.
Apa Itu FOMO?
FOMO adalah kondisi ketika seseorang merasa harus selalu mengikuti apa yang sedang populer agar tidak merasa tertinggal. Perasaan ini sering dipicu oleh media sosial yang menampilkan sisi terbaik kehidupan orang lain.
Beberapa tanda seseorang mengalami FOMO antara lain:
- Terus-menerus membuka media sosial untuk mengetahui aktivitas orang lain.
- Merasa sedih atau iri ketika melihat teman melakukan hal-hal yang dianggap menyenangkan.
- Sulit menolak ajakan karena takut kehilangan pengalaman.
- Merasa hidup sendiri kurang menarik dibandingkan orang lain.
Jika dibiarkan, FOMO dapat meningkatkan stres, kecemasan, bahkan membuat seseorang sulit menikmati apa yang sudah dimilikinya.
Mengenal JOMO
Berbeda dengan FOMO, JOMO (Joy of Missing Out) adalah kemampuan untuk merasa bahagia meskipun tidak mengikuti semua tren atau aktivitas yang sedang ramai dibicarakan.
Seseorang yang menerapkan JOMO tidak merasa perlu membandingkan hidupnya dengan orang lain. Ia lebih fokus pada apa yang benar-benar membuat dirinya nyaman dan bahagia.
Misalnya, saat teman-teman sedang berkumpul di sebuah tempat yang sedang viral, seseorang yang menerapkan JOMO mungkin memilih menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga, membaca buku, berolahraga, atau sekadar beristirahat tanpa merasa bersalah.
Mengapa JOMO Semakin Populer?
Ada beberapa alasan mengapa banyak orang mulai beralih dari FOMO ke JOMO.
1. Kesadaran akan kesehatan mental.
Semakin banyak orang menyadari bahwa membandingkan diri secara terus-menerus dapat memengaruhi kesehatan mental.
2. Kelelahan akibat media sosial.
Paparan informasi yang tidak ada habisnya membuat banyak orang merasa lelah secara emosional sehingga mulai mengurangi waktu bermain media sosial.
3. Menghargai kualitas hidup.
Kini banyak orang lebih memilih pengalaman yang bermakna daripada sekadar mengikuti tren demi mendapatkan pengakuan.
4. Belajar menerima diri sendiri.
JOMO membantu seseorang memahami bahwa setiap orang memiliki jalan hidup dan waktu pencapaian yang berbeda.
Cara Mulai Menerapkan JOMO
Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan:
- Batasi waktu penggunaan media sosial setiap hari.
- Kurangi kebiasaan membandingkan hidup dengan orang lain.
- Fokus pada tujuan dan kebutuhan diri sendiri.
- Luangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang disukai tanpa harus mengunggahnya ke media sosial.
- Bersyukur atas hal-hal kecil yang dimiliki setiap hari.
Di tengah derasnya arus informasi dan tren yang terus berganti, tidak semua hal harus diikuti. Sesekali melewatkan suatu tren bukan berarti kita gagal atau tertinggal. Justru, memilih apa yang benar-benar penting bagi diri sendiri dapat memberikan ketenangan dan kebahagiaan yang lebih bermakna.
Pada akhirnya, hidup bukan tentang siapa yang paling cepat mengikuti tren, melainkan bagaimana kita dapat menikmati setiap proses dengan cara yang sesuai dengan nilai dan kebahagiaan kita sendiri. Itulah esensi dari JOMO, menemukan kebahagiaan tanpa harus merasa takut tertinggal.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....