IQAir Catat Udara Balikpapan Tidak Sehat, Disdikbud Siapkan Dua Skenario Belajar
- 05 Okt 2026 18:45 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Balikpapan - Kondisi kualitas udara di Balikpapan menjadi perhatian pada awal Pekan ini. Pemantauan IQAir menunjukkan AQI US mencapai 155 dengan PM2.5 sebagai polutan utama, yang masuk kategori tidak sehat.
Di tengah kondisi tersebut, aktivitas belajar mengajar di sekolah belum dihentikan. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Balikpapan masih mempertahankan pembelajaran tatap muka dengan mengacu pada hasil pemantauan kualitas udara dari pemerintah daerah.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Balikpapan Irfan Taufik mengatakan belum ada sekolah yang menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat kondisi udara. "Masih, masih. Jadi belum ada pembelajaran jarak jauh," kata Irfan, Senin, 5 Oktober 2026.
Meski pembelajaran tatap muka masih berlangsung, Disdikbud telah menyiapkan langkah antisipasi jika kualitas udara mengalami penurunan.
Irfan menyebut terdapat dua pilihan yang dapat diterapkan. Pilihan pertama berupa penyesuaian waktu belajar. Jam masuk sekolah dapat digeser apabila kualitas udara pada pagi hari dinilai kurang baik, kemudian membaik beberapa jam setelahnya.
"Kita akan pergeseran jam belajar. Misalnya pagi buruk banget, jam 9 cuaca kembali normal, kita bisa geser jam belajar," ujarnya.
Pilihan berikutnya adalah pembelajaran secara daring. Infrastruktur untuk mendukung kegiatan belajar dari rumah disebut telah tersedia, sehingga secara teknis sekolah cukup siap jika skema tersebut harus diterapkan.
Namun, Irfan mengatakan keputusan untuk menjalankan pembelajaran daring tetap harus mempertimbangkan kondisi sosial dan kesiapan masyarakat.
"Alternatif kedua, daring. Dari sisi infrastruktur sangat siap. Tapi kita harus lihat situasi dan kondisi masyarakat kita," katanya.
Ia menegaskan perubahan pola pembelajaran akan bergantung pada perkembangan kualitas udara. Jika kondisi udara semakin buruk hingga berada pada tingkat yang membahayakan, Disdikbud akan melakukan penyesuaian untuk mengurangi paparan siswa dan guru terhadap udara yang tercemar.
Keputusan tersebut nantinya dibahas bersama sejumlah pihak terkait, termasuk Dinas Kesehatan dan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Balikpapan. Disdikbud juga telah memiliki surat edaran yang mengatur langkah yang dapat dilakukan sekolah ketika terjadi kondisi udara yang tidak mendukung kegiatan pembelajaran.
"Kita rapat berbagai stakeholder, ditoleransi kondisi udara. Surat edaran kami sudah terinci begitu," ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Balikpapan Sudirman Djayaleksana mengatakan hasil pemantauan dari perangkat Air Quality Monitoring System (AQMS) milik pemerintah daerah menunjukkan kondisi udara masih berada pada kategori sedang.
Dua perangkat AQMS yang dimiliki DLH ditempatkan di Kantor DLH dan kawasan Balikpapan Baru. Alat tersebut bekerja melakukan pemantauan kualitas udara selama 24 jam.
"Kualitas udara Balikpapan kondisinya masih sedang. Kita punya alat dua, ada di Balikpapan Baru, ada di DLH. Dan itu real time 24 jam," kata Sudirman yang akrab disapa Dirman.
Menurut Dirman, kondisi udara tidak cukup dinilai hanya dari tampilan kabut atau asap yang terlihat pada waktu tertentu. Pengukuran dilakukan secara berkelanjutan sehingga perubahan kualitas udara dapat diketahui sepanjang hari.
"Kalau kabut itu hanya pagi, habis itu hilang. Nah, ini 'kan udara, ngeceknya bukan hanya pagi, seharian," ujarnya.
Masyarakat pun diminta mengikuti perkembangan kualitas udara melalui aplikasi ISPU Net KLH sebagai salah satu sumber informasi pemantauan kondisi udara secara real time.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....