Petani PPU Minta Alat Pertanian Dukung PLTB di IKN

  • 17 Sep 2026 12:32 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Nusantara – Petani di sekitar IKN membutuhkan dukungan peralatan yang sesuai kondisi lapangan agar pengelolaan lahan tanpa bakar dapat diterapkan secara efisien dan bernilai ekonomi. Ketersediaan alat dinilai penting karena petani harus tetap menjaga produktivitas ketika meninggalkan cara pembukaan lahan dengan pembakaran.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Pitoyo, mengatakan kebutuhan utama petani saat ini adalah peralatan yang mampu membantu proses pembukaan lahan tanpa membakar.

Pitoyo menyampaikan hal tersebut saat mengikuti hari terakhir Sekolah Lapang Musim Kemarau dan Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar (PLTB) di Wisata Agro Sukaraja, Kecamatan Sepaku, Kamis, 17 September 2026.

Menurutnya, penerapan PLTB perlu memperhitungkan skala ekonomi usaha tani. Petani akan lebih mudah beralih jika tersedia metode yang dapat menghemat waktu dan biaya pembukaan lahan.

“Sebetulnya alat-alat yang sesuai dengan kondisi lapangan. Jujur saja, kalau kita bicara skala yang mengarah skala ekonomi, dalam melakukan pertanian itu memang harus ditinjau dari nilai ekonomisnya,” ujar Pitoyo.

Ia mencontohkan penggunaan alat berat yang saat ini sudah dilakukan sebagian petani untuk membuka lahan. Menurut Pitoyo, penggunaan peralatan tersebut dapat menjadi alternatif selama biaya yang dikeluarkan masih sebanding dengan kemampuan ekonomi petani.

Pitoyo memperkirakan pembukaan lahan seluas satu hektare tanpa bakar dapat dilakukan dengan biaya sekitar Rp5 juta hingga Rp6 juta menggunakan peralatan yang sesuai. Perhitungan tersebut menurutnya menjadi salah satu pertimbangan agar metode tanpa bakar tidak hanya aman dari risiko api, tetapi juga layak secara ekonomi.

“Kalau satu hektare cukup dengan Rp5 sampai Rp6 juta, sudah selesai pembukaan lahan tanpa bakar,” katanya.

Karena itu, dukungan peralatan menurut Pitoyo perlu disesuaikan dengan kebutuhan nyata petani di lapangan. Bantuan alat yang tepat dinilai dapat mempercepat proses pengolahan lahan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pembakaran.

Ia menilai pendekatan tersebut penting terutama di kawasan sekitar IKN yang aktivitas pertaniannya tetap berjalan di tengah upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Petani membutuhkan pilihan yang memungkinkan kegiatan produksi tetap berlangsung tanpa menambah risiko munculnya titik api.

Pitoyo juga mengingatkan bahwa sumber api tidak hanya berasal dari pembukaan lahan. Dalam kondisi lingkungan yang panas dan kering, hal sederhana seperti puntung rokok yang tidak dimatikan sempurna dapat menjadi pemicu kebakaran.

“Puntung rokok pun bisa jadi api. Kalau sudah membesar dengan kondisi panas yang ditimbulkan dari tanah yang sudah beberapa hari kena sinar matahari, sangat rentan dengan titik api dan akan cepat membesar,” ucapnya.

Menurut Pitoyo, masyarakat setidaknya dapat mengambil bagian dengan tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Langkah sederhana tersebut diperlukan agar upaya pengendalian karhutla tidak semakin berat ketika kondisi lahan sedang kering.

“Kalau tidak bisa berbuat untuk mencegah, minimal kita tidak melakukan pembakaran sehingga tidak menambah masalah yang sudah ada,” kata Pitoyo.

Kebutuhan peralatan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa penerapan PLTB membutuhkan dukungan yang dekat dengan persoalan ekonomi petani. Bagi Pitoyo, teknologi dan alat yang tepat dapat menjadi jembatan agar praktik pengelolaan lahan tanpa bakar lebih mudah diterapkan dalam kegiatan pertanian sehari-hari.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....