Salat Istisqa di Sepaku Jadi Momentum Warga Introspeksi Diri
- 01 Sep 2026 13:34 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Penajam Paser Utara - Salat Istisqa di Sepaku tidak hanya menjadi ikhtiar memohon turunnya hujan, tetapi juga momentum masyarakat melakukan introspeksi diri.
Khatib Salat Istisqa, Kiai Said, mengajak jamaah menjadikan kondisi kemarau sebagai pengingat untuk kembali mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pesan tersebut disampaikan Said seusai pelaksanaan Salat Istisqa di Lapangan Desa Tengin Baru, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara, Selasa, 1 September 2026.
Menurutnya, inti dari Salat Istisqa bukan semata-mata berharap hujan turun, melainkan memperbanyak taubat dan mengakui kesalahan di hadapan Allah.
“Yang paling penting ditekankan dalam Salat Istisqa adalah bertaubat. Kita introspeksi diri dan mengingat kembali dosa-dosa kita,” kata Kiai Said.
Ia menjelaskan, taubat menjadi bagian penting dalam pelaksanaan Salat Istisqa karena manusia diajak menyadari keterbatasan dan kesalahannya. Kerendahan hati tersebut diharapkan mendorong masyarakat memperbaiki diri, baik dalam kehidupan beragama maupun bermasyarakat.
Menurut Kiai Said, turunnya hujan merupakan kehendak Allah SWT. Karena itu, permohonan kepada Allah perlu disertai pengakuan atas kesalahan dan kesungguhan untuk memperbaiki perilaku.
“Minimal ada pengakuan salah di dalam hati kita. Itu saja sudah termasuk poin yang penting dengan diadakannya Salat Istisqa,” ujarnya.
Ia menilai pelaksanaan Salat Istisqa atas arahan Bupati Penajam Paser Utara menjadi langkah positif di tengah kondisi kemarau. Bagi masyarakat, kegiatan tersebut membuka ruang untuk bersama-sama berdoa sekaligus memperkuat kesadaran spiritual.
Said juga mengapresiasi perhatian pemerintah daerah terhadap kondisi yang dihadapi masyarakat selama kemarau. Menurutnya, ikhtiar menghadapi kekeringan tidak hanya membutuhkan langkah teknis, tetapi juga pendekatan batin melalui doa dan introspeksi.
Bagi masyarakat Sepaku, momentum tersebut berlangsung ketika sebagian wilayah mulai merasakan berkurangnya sumber air. Kondisi kemarau juga berjalan bersamaan dengan meningkatnya kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan.
Karena itu, pesan taubat dalam Salat Istisqa dapat dimaknai lebih luas sebagai ajakan memperbaiki hubungan manusia dengan Tuhan sekaligus lingkungan.
Doa memohon hujan dapat berjalan bersama tanggung jawab menjaga air, tidak merusak lingkungan, dan mencegah tindakan yang berpotensi memicu kebakaran.
Said berharap masyarakat tidak berhenti pada pelaksanaan salat.
Nilai introspeksi dan taubat yang muncul dari Salat Istisqa diharapkan terus dibawa dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menilai kemarau dapat menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama bahwa manusia memiliki tanggung jawab menjaga kehidupan.
Dengan demikian, Salat Istisqa tidak hanya menghadirkan harapan akan turunnya hujan, tetapi juga perubahan sikap dari masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....