Khatib Salat Istisqa IKN Ajak Warga Perbanyak Istigfar

  • 04 Sep 2026 08:59 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Nusantara – Kekeringan yang mulai terasa di kawasan Ibu Kota Nusantara menjadi pengingat agar manusia kembali melakukan introspeksi dan memperbaiki hubungan dengan Allah.

Pesan itu disampaikan Ust. Dr. H. Rusdi Abdullah, M.S.I., saat menyampaikan khotbah Salat Istisqa di Jalan Grande, depan Istana, KIPP Ibu Kota Nusantara, Jumat, 4 September 2026.

Rusdi mengajak jemaah memperbanyak istigfar dan memohon ampun kepada Allah SWT. Menurutnya, permohonan hujan tidak hanya disampaikan melalui doa, tetapi juga perlu diiringi kesadaran untuk kembali menjalankan kehidupan sesuai tuntunan agama.

“Intinya adalah bahwa kita harus kembali ke jalan yang telah ditetapkan Allah. Yang terutama sekali adalah bagaimana kita untuk banyak mohon ampun kepada Allah,” ujarnya kepada RRI.

Rusdi mengaitkan pesan tersebut dengan Surah Nuh ayat 10–12. Dalam ayat tersebut, permohonan ampun kepada Allah disampaikan bersamaan dengan janji turunnya hujan yang membawa manfaat bagi kehidupan.

Menurutnya, pesan tersebut menjadi relevan ketika masyarakat menghadapi kondisi kekeringan. Air bukan hanya dibutuhkan manusia, tetapi juga tanaman dan berbagai makhluk hidup yang bergantung pada ketersediaan air.

Pelaksanaan Salat Istisqa di kawasan Nusantara berlangsung ketika kondisi cuaca memang masih cenderung kering. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan sebagian besar wilayah Kalimantan Timur mengalami curah hujan rendah pada dasarian pertama September 2026.

BMKG juga mencatat sebagian besar Kalimantan Timur berpeluang mengalami curah hujan kurang dari 50 milimeter sepanjang September. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan kewaspadaan terhadap kekeringan masih cukup tinggi. (BMKG)

Kondisi kering juga beriringan dengan ancaman kebakaran hutan dan lahan. Dalam prakiraan periode 4–10 September 2026, BMKG menyebut kondisi panas dan kering masih berlangsung di awal September, sementara titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia.

Di Kalimantan Timur, kondisi tersebut menjadi perhatian karena kawasan IKN sebelumnya juga telah dipetakan memiliki risiko kekeringan dan karhutla. Otorita IKN menyebut musim kemarau 2026 diperkirakan lebih kering dari kondisi normal dan titik panas antara lain terkonsentrasi di sekitar Sepaku.

Karena itu, pesan Rusdi tentang istigfar juga dapat dimaknai sebagai ajakan untuk memperbaiki perilaku manusia terhadap lingkungan. Kekeringan tidak hanya berdampak pada kebutuhan air, tetapi dapat merembet pada kondisi tanaman, ekosistem, hingga meningkatnya risiko kebakaran.

Rusdi mengatakan Salat Istisqa merupakan bagian dari tuntunan yang pernah dilakukan Rasulullah SAW ketika umat menghadapi kondisi yang membutuhkan turunnya hujan. Karena itu, pelaksanaannya menjadi bentuk ikhtiar spiritual masyarakat ketika menghadapi kekeringan.

Di sisi lain, ia mengingatkan bahwa manusia tetap perlu menyadari keterbatasannya. Hujan tidak dapat dipaksakan datang hanya melalui perhitungan manusia, sehingga doa menjadi salah satu bentuk pengharapan kepada Allah.

Salat Istisqa di Nusantara diikuti masyarakat, pegawai, dan pelajar. Deputi Bidang Sosial Budaya dan Pemberdayaan Masyarakat Otorita IKN Alimuddin sebelumnya menyebut jumlah peserta diperkirakan mencapai sekitar seribu orang.

Rusdi juga menyampaikan rasa syukur ketika hujan mulai dirasakan di sejumlah wilayah. Ia berharap turunnya hujan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.

“Alhamdulillah, ini sudah terasa hujan turun. Mudah-mudahan ini dampak dari apa yang dilaksanakan oleh kaum muslimin di seluruh penjuru yang sudah melaksanakan Salat Istisqa, minta hujan,” katanya.

Namun, doa meminta hujan juga dapat menjadi pengingat bahwa ketika air kembali tersedia, manusia memiliki tanggung jawab untuk menjaganya. Ketersediaan air perlu dipandang sebagai bagian dari keberlangsungan kehidupan, bukan sekadar kebutuhan sesaat ketika kemarau datang.

Bagi kawasan Nusantara yang sedang berkembang, pesan tersebut memiliki arti yang lebih luas. Pembangunan dapat terus berjalan ketika kondisi cuaca mendukung, tetapi keberlanjutan kawasan tetap membutuhkan lingkungan yang sehat dan sumber daya alam yang terjaga.

Salat Istisqa pun tidak berhenti pada harapan agar hujan turun. Ada pesan tentang pertobatan, kepedulian terhadap lingkungan, dan kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan dalam menjaga keseimbangan alam.

Pada akhirnya, tetes hujan yang dinanti bukan sekadar untuk membasahi tanah. Hujan diharapkan menjadi keberkahan yang menghidupkan kembali tanaman, menjaga ketersediaan air, sekaligus membantu masyarakat melewati musim kering dengan lebih aman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....