Karhutla Berau, BPBD Ungkap Kendala Sumber Air hingga BBM

  • 26 Agt 2026 19:12 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Berau - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Berau menghadapi sejumlah kendala dalam menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kondisi di lapangan membuat petugas harus menyesuaikan strategi agar api dapat segera dikendalikan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Berau, Masyhadi Muhdi, mengatakan salah satu kendala utama adalah lokasi titik api yang sulit dijangkau kendaraan.

“Kendalanya adalah titik api itu terlalu jauh atau susah dijangkau, sehingga unit kita tidak mampu melakukan pemadaman ke lokasi. Jika dipaksa, kita hanya melakukan pemadaman dengan peralatan manual dan itu agak susah dilakukan,” ujar Masyhadi, dalam Dialog Kentongan RRI Samarinda, Selasa, 25 Agustus 2026.

Selain akses, BPBD Berau juga menghadapi keterbatasan jumlah sarana dan personel di lapangan. Kondisi tersebut membuat pihaknya perlu melibatkan berbagai unsur untuk memperkuat penanganan karhutla.

kendala berikutnya, lanjut Masyhadi, adalah ketersediaan sumber air. Akibatnya, petugas terkadang harus mencari sumber air yang lokasinya cukup jauh ketika persediaan air di lapangan habis.

“Pada saat sumber air habis, kita perlu mengambil air ke lokasi yang agak jauh. Itu membuat api yang sudah seharusnya bisa kita atasi membesar kembali,” kata dia.

Persoalan tersebut pun menjadi semakin berat ketika karhutla terjadi secara bersamaan di beberapa lokasi. Sebab, petugas harus membagi personel dan unit pemadam untuk menangani sejumlah titik dalam waktu yang sama.

Menurut Masyhadi, pembagian kekuatan tersebut membuat penanganan di masing-masing lokasi menjadi lebih terbatas. Karena itu, BPBD harus menentukan lokasi yang menjadi prioritas berdasarkan tingkat risikonya.

"Kita akan petakan dulu mana lokasi yang mendekati pemukiman sehingga akan kita amankan. Yang kedua, kita akan turunkan tim secara lebih sedikit di lokasi yang mudah ditangani. Kalau skalanya karhutlanya masif kekuatan unit akan lebih banyak," ujar Masyhadi, menjelaskan.

Lebih lanjut, keterbatasan berikutnya berkaitan dengan kebutuhan bahan bakar minyak (BBM). Ia mengungkapkan, pperasional pemadaman membutuhkan BBM dalam jumlah besar, sementara BPBD juga menghadapi keterbatasan anggaran akibat efisiensi.

“Bencana ini tidak bisa kita duga. Sedangkan efisiensi sudah di awal tahun kita hadapi. Ketika ada bencana, otomatis ini sangat berpengaruh terhadap tugas-tugas kita yang ada di lapangan,” ucapnya.

Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, BPBD Berau mendorong keterlibatan sektor swasta dalam penanganan karhutla. Perusahaan yang berada di wilayah perkebunan maupun pertambangan dinilai memiliki sarana, personel, dan logistik yang dapat membantu pemadaman.

Masyhadi mengatakan, pihaknya telah memetakan perusahaan di masing-masing wilayah dan mengintegrasikannya dalam penanganan bersama. Langkah tersebut dilakukan untuk memperkuat kekuatan petugas ketika terjadi kebakaran.

Selain perusahaan, BPBD juga terus mendorong keterlibatan masyarakat. Menurut Masyhadi, kesadaran masyarakat masih perlu ditingkatkan karena sebagian warga masih sebatas menyaksikan petugas melakukan pemadaman.

Ia pun berharap masyarakat dapat ikut membantu penanganan awal sesuai kemampuan ketika menemukan kebakaran. Keterlibatan tersebut penting karena masyarakat berada paling dekat dengan lokasi kejadian.

"Masyarakat ini masih ada yang menonton kita bekerja, tidak membantu untuk melakukan upaya-upaya pemadaman. Keterlibatan dan kesadarannya kurang," ujar Masyhadi, mengakhiri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....