Kapolda Kaltim: 16 Tersangka Karhutla, Luas Terdampak 2.264 Hektare

  • 14 Sep 2026 21:21 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Nusantara – Polda Kalimantan Timur menetapkan 16 tersangka dalam 47 laporan kasus karhutla hingga 13 September 2026. Luas lahan terdampak perkara tersebut mencapai 2.264,14 hektare.

Kapolda Kaltim Irjen Pol Endar Priantoro mengatakan penanganan karhutla telah disiapkan sejak awal tahun melalui apel kesiapan, rapat koordinasi, hingga persiapan personel dan sarana pendukung.

Polda Kaltim bersama jajaran juga melakukan pemantauan kondisi hotspot dan titik api secara real time menggunakan aplikasi Lembuswana. Aplikasi tersebut merupakan pengembangan dari sistem Lancang Kuning yang digunakan di Riau.

Menurut Endar, aplikasi Lembuswana memanfaatkan empat satelit untuk memantau hotspot dan titik api. Sistem tersebut digunakan sebagai dasar pemantauan serta langkah antisipasi hingga tingkat kecamatan dan polsek.

“Ini yang kita gunakan sebagai monitoring real time setiap hari dan bisa diakses oleh seluruh, kemarin dari Kodam sudah, dari Pindasu, dari BNPB sudah,” katanya dalam rapat koordinasi penanganan karhutla di Kaltim, Senin, 14 September 2026.

Berdasarkan data Polda Kaltim hingga 13 September 2026, tercatat 9.723 hotspot. Dari jumlah tersebut, 5.327 merupakan titik api dan 4.396 bukan titik api, dengan luas lahan terbakar sekitar 3.358 hektare.

Khusus periode 25 Agustus hingga 13 September, Polda mencatat 3.911 hotspot. Sebanyak 2.644 di antaranya merupakan titik api, sedangkan 1.267 bukan titik api, dengan luas lahan terbakar sekitar 2.069 hektare.

Endar mengatakan kepolisian juga telah meningkatkan penanganan melalui operasi khusus karhutla, selain kegiatan rutin kepolisian. Operasi tersebut diarahkan untuk memperkuat pengawasan dan penanganan kebakaran di wilayah rawan.

Polda Kaltim mencatat aktivitas karhutla sempat mencapai puncak pada pekan keempat Agustus, yakni periode 23 hingga 31 Agustus. Pada periode tersebut, jumlah hotspot harian disebut mencapai angka tertinggi.

Memasuki September, tren kebakaran mulai menunjukkan penurunan. Pada pekan pertama September, luas lahan terbakar tercatat sekitar 719 hektare, kemudian kembali turun menjadi sekitar 384 hektare pada pekan kedua September.

Meski terdapat penurunan, Endar menyebut lima kabupaten masih menjadi perhatian utama. Wilayah tersebut adalah Berau, Kutai Timur, Paser, Kutai Kartanegara dan Kutai Barat.

Lima wilayah tersebut memiliki titik hotspot dan titik api cukup tinggi. Selain itu, kondisi geografis dan akses menuju sejumlah lokasi kebakaran menjadi tantangan dalam penanganannya.

“Ini adalah lima wilayah kabupaten yang titik hotspot dan titik apinya cukup besar. Kondisinya cukup jauh dan memang aksesnya cukup besar,” ucapnya.

Dari sisi penegakan hukum, Polda Kaltim menerima 47 laporan terkait karhutla. Dua kasus di antaranya terjadi di kawasan IKN, masing-masing di Kecamatan Loa Janan dan Muara Jawa.

Dari 47 perkara tersebut, terdapat 20 laporan polisi dan 27 informasi laporan. Polisi kemudian menetapkan 16 orang sebagai tersangka dengan luas lahan terdampak dalam perkara mencapai 2.264,14 hektare.

Polda Kaltim juga menerima dukungan dari Mabes Polri yang didistribusikan kepada lima polres di wilayah rawan. Bantuan tersebut antara lain berupa perlengkapan kesehatan, tabung oksigen, masker dan kebutuhan pendukung lainnya.

Perlengkapan tersebut ditempatkan di posko dan dapat digunakan personel maupun masyarakat yang terlibat dalam penanganan karhutla. Dukungan kesehatan diperlukan karena petugas harus bekerja di tengah kondisi asap dan lokasi kebakaran.

Untuk memperkuat penanganan di wilayah paling rawan, Endar secara khusus meminta agar Kabupaten Berau menjadi prioritas dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca atau OMC.

Menurutnya, Berau memiliki potensi kebakaran cukup tinggi dan telah mengalami kondisi tanpa hujan selama lebih dari dua pekan. Kondisi tersebut membuat dukungan hujan menjadi penting untuk membantu upaya pengendalian karhutla.

“Kami mohon kiranya seandainya memang masih ada kemungkinan OMC, kami mohon Berau juga disiapkan untuk OMC,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....