Musim Kemarau, Karhutla Samarinda Catat 35 Kejadian

  • 11 Agt 2026 15:48 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menjadi perhatian serius di Kota Samarinda. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Samarinda mencatat sebanyak 35 kejadian karhutla sejak Januari hingga pembaruan data pada awal Agustus 2026.

Dari puluhan kejadian tersebut, total luas lahan yang terdampak mencapai sekitar 16,22 hektare. Kondisi ini menjadi perhatian karena Samarinda saat ini memasuki periode cuaca yang semakin kering, yang berpotensi mempercepat muncul dan meluasnya kebakaran.

Berdasarkan data BPBD Kota Samarinda, kejadian karhutla paling banyak tercatat di Kecamatan Samarinda Ulu dan Sambutan, masing-masing sebanyak tujuh kejadian.

Selanjutnya, Kecamatan Samarinda Utara dan Palaran masing-masing mencatat lima kejadian, Sungai Pinang empat kejadian, Sungai Kunjang tiga kejadian, serta Loa Janan Ilir dua kejadian. Sementara satu kejadian tercatat di luar wilayah administrasi Kota Samarinda.

Adapun Kecamatan Samarinda Kota dan Samarinda Seberang hingga pembaruan data tersebut belum mencatat adanya kejadian kebakaran hutan maupun lahan.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Samarinda, Suwarso, menjelaskan peningkatan risiko karhutla tidak terlepas dari kondisi cuaca yang semakin kering selama musim kemarau.

“Cuaca saat ini sudah mulai masuk peralihan menuju musim kemarau. Curah hujan diprediksi semakin berkurang dan suhu udara meningkat, kondisi ini tentu harus menjadi perhatian bersama,” ujar Suwarso.

Menurutnya, kondisi vegetasi yang mengering membuat lahan lebih mudah terbakar. Risiko tersebut semakin besar ketika kondisi kering disertai embusan angin yang dapat mempercepat penyebaran api.

Suwarso mengatakan, pengalaman terjadinya kebakaran di sejumlah wilayah Samarinda menjadi dasar bagi pemerintah untuk memperkuat langkah mitigasi, khususnya menghadapi periode cuaca panas.

“Samarinda pernah memiliki catatan kejadian kebakaran lahan di sejumlah wilayah, seperti Kecamatan Sambutan, Sungai Kunjang, dan Palaran. Pengalaman tersebut menjadi dasar pemerintah untuk memperkuat upaya mitigasi sejak dini,” katanya pada Selasa 11 Agustus 2026.

Selain faktor cuaca, hasil evaluasi BPBD Kota Samarinda menunjukkan sebagian besar kejadian karhutla masih dipicu aktivitas manusia.

Sejumlah penyebab yang ditemukan di lapangan antara lain pembakaran sampah, pembukaan lahan dengan cara membakar, hingga puntung rokok yang dibuang sembarangan di kawasan yang kering.

Kondisi tersebut membuat pencegahan tidak hanya bergantung pada kesiapan petugas, tetapi juga membutuhkan peran masyarakat. BPBD terus mengingatkan warga agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran, terutama selama kondisi cuaca kering.

Sebelumnya, BPBD Samarinda juga telah memperkuat koordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Manggala Agni, relawan, serta Kelurahan Tangguh Bencana untuk mempercepat penanganan apabila terjadi kebakaran.

Dengan 35 kejadian yang telah tercatat sejak awal tahun, masyarakat diminta tidak menganggap sepele aktivitas yang melibatkan api di lahan terbuka. Kewaspadaan dan pencegahan sejak dini dinilai menjadi kunci untuk mencegah kebakaran meluas selama musim kemarau.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....