Program KIC 2026 Bangun Kolaborasi Industri Dengan Akademik Kampus

  • 10 Agt 2026 13:42 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Balikpapan - Guna mengembangkan gagasan inovatif kampus melalui pertemuan antara bidang industri dengan bidang akademik, PT Kideco Jaya Agung memperkuat kolaborasi bersama perguruan tinggi dalam program unggulannya, yakni Kideco Innovation Challenge (KIC) 2026. KIC 2026 sendiri digelar bersama Institut Teknologi Kalimantan (ITK) dengan mengusung tema 'Inovasi Artificial Intelligence (AI) dan Internet of Things (IoT) dalam Sustainable Mining and Energy'.

Di mana, kolaborasi ini melibatkan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Pulau Kalimantan dan dikemas melalui tiga kategori, yakni Essay, Hackathon, dan Prototype. Berdasarkan informasi penyelenggara, sebanyak 83 tim mengikuti rangkaian KIC 2026, kemudian harus melewati tahapan seleksi dan mengkrucut menjafi 15 tim kemudian terpilih sebagai finalis.

Keterlibatan peserta dari berbagai perguruan tinggi menjadi bagian dari upaya memperluas ruang interaksi antara Kideco dengan lingkungan akademik.

Program KIC bukan hanya sebuah kompetisi bagi mahasiswa, melainkan juga menjadi salah satu bentuk pendekatan perusahaan dalam membangun hubungan yang lebih dekat dengan perguruan tinggi melalui persoalan dan kebutuhan yang berasal dari dunia industri.

Direktur Utama PT Kideco Jaya Agung, M. Kurnia Ariawan, mengatakan pola kolaborasi tersebut penting untuk mempertemukan kemampuan akademik dengan kebutuhan industri. Menurutnya industri dapat membawa persoalan yang dihadapi di lapangan ke perguruan tinggi sehingga mahasiswa memiliki kesempatan untuk melihat permasalahan tersebut dari perspektif yang berbeda.

"Di Jerman itu sudah biasa bahwa industri kalau ada masalah itu datangnya ke kampus. Nah sekarang Kideco menginisiasi untuk itu," ujar Kurnia.

Kurnia juga menerangkan, keterlibatan perguruan tinggi dalam menyelesaikan persoalan industri dapat menciptakan hubungan yang lebih erat antara kedua pihak. Sehingga, kampus tmbukan hanya menjadi wadah berlangsungnya proses pendidikan, tetapi juga dapat menjadi mitra dalam menghasilkan pemikiran dan gagasan yang dibutuhkan dunia usaha.

Menurut Kurnia, pola tersebut diharapkan dapat terus dikembangkan melalui kerja sama yang lebih luas. Kideco juga berharap hubungan serupa dapat terbangun dengan perguruan tinggi lain sehingga kolaborasi industri dan akademik tidak hanya berlangsung dalam satu kegiatan.

"Harapan kami tidak hanya Kideco, tapi juga perusahaan-perusahaan atau industri-industri yang lain yang bekerja sama dengan ITK," ucapnya.

Sementara itu, Rektor ITK Agus Rubiyanto, sangat menyambut positif langkah Kideco dalam membangun kolaborasi tersebut. Menurut Agus, keterlibatan industri dalam memberikan persoalan nyata kepada mahasiswa membuat proses pembelajaran di perguruan tinggi memiliki keterkaitan yang lebih kuat dengan kebutuhan dunia kerja.

"Kideco memberikan problem-problem yang real yang ada di lapangan. Sehingga kalau ini terus berjalan, maka antara link and match-nya itu akan terjadi," ujar Agus.

Agus pun menilai pola kerja sama tersebut dapat memperkuat hubungan antara pengetahuan yang diperoleh mahasiswa di kampus dengan kebutuhan industri. Mahasiswa mendapat kesempatan memahami persoalan secara lebih kontekstual, sementara industri memiliki ruang untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan akademik.

Bagi ITK, kolaborasi dengan industri juga sejalan dengan karakter perguruan tinggi yang berbasis Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Penguatan hubungan dengan dunia usaha dinilai penting untuk mendorong lingkungan akademik yang mampu merespons persoalan nyata melalui pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kolaborasi tersebut juga mendapat dukungan dari Direktur Inovasi Kideco Iwan Susanto. Menurutnya, hubungan antara dunia industri dan pendidikan perlu dibangun secara berkelanjutan agar pengetahuan dan kemampuan yang diperoleh mahasiswa dapat terhubung dengan kebutuhan di lingkungan sekitar.

"Tadi seperti Prof sampaikan bahwa KIC ini merupakan bagian yang tak terpisahkan dari link and match antara dunia industri dan dunia pendidikan," kata Iwan menerangkan.

Ia berpendapat, keterhubungan tersebut penting untuk memastikan proses pendidikan tidak berjalan sendiri tanpa melihat perkembangan dan kebutuhan dunia industri. Melalui KIC, mahasiswa mendapatkan ruang untuk berinteraksi dengan persoalan yang dibawa dari lingkungan industri, sementara Kideco dapat membangun komunikasi yang lebih dekat dengan generasi muda di perguruan tinggi.

Rangkaian KIC 2026 juga mempertemukan para finalis dengan lingkungan industri melalui Kideco Mining Industry Visit. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian program yang memperkenalkan dunia kerja dan lingkungan operasional perusahaan kepada peserta.

Keterlibatan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kalimantan turut memperluas cakupan kolaborasi Kideco dengan dunia pendidikan. Ruang interaksi tersebut memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk membangun jejaring dengan talenta muda dari berbagai daerah sekaligus memperkenalkan kebutuhan dunia industri kepada lingkungan akademik.

Iwan mengatakan, keterlibatan Kideco dalam kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan juga tidak terlepas dari kontribusi perusahaan kepada masyarakat. Menurutnya, perusahaan memiliki ruang untuk berperan lebih luas melalui kegiatan yang membangun hubungan dengan lingkungan sekitar.

"Kita tidak hanya menambang, tapi juga kita ingin berkontribusi untuk masyarakat," ujarnya.

KIC 2026 pun menjadi salah satu bentuk kolaborasi yang mempertemukan dua lingkungan tersebut dalam satu kegiatan. Kideco membawa perspektif industri, sementara perguruan tinggi menghadirkan kapasitas akademik dan mahasiswa sebagai bagian dari proses interaksi tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....