PPU Perkuat Antisipasi Karhutla, Teknologi Hotspot Jadi Andalan

  • 04 Agt 2026 10:25 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Penajam Paser Utara – Memasuki musim kemarau, ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Kalimantan Timur. Selain berpotensi merusak ekosistem, kebakaran juga dapat memicu kabut asap yang berdampak pada kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga transportasi.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Polres Penajam Paser Utara (PPU) mengikuti Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Pencegahan dan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan serta Antisipasi Dampak El Nino Provinsi Kalimantan Timur, 4 Agustus 2026.

Forum tersebut mempertemukan pemerintah daerah, TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, instansi teknis, serta berbagai pemangku kepentingan guna menyatukan langkah menghadapi potensi meningkatnya karhutla selama musim kemarau.

Kapolres PPU AKBP Andreas Alek Danantara melalui Wakapolres PPU Kompol Roganda mengatakan pencegahan tetap menjadi strategi utama dalam menekan risiko kebakaran.

"Penanganan karhutla tidak dapat dilakukan secara parsial, tetapi membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Polres PPU berkomitmen memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, TNI, BPBD, Manggala Agni, perusahaan, serta masyarakat melalui patroli terpadu, edukasi, sosialisasi, dan respons cepat terhadap setiap potensi kebakaran yang ditemukan di lapangan," ujarnya.

Menurut Roganda, perkembangan teknologi kini turut memperkuat upaya pencegahan. Salah satunya melalui pemanfaatan Aplikasi Lembuswana yang digunakan Polda Kalimantan Timur untuk memantau titik panas (hotspot) secara waktu nyata (real time).

Dengan sistem tersebut, indikasi titik api dapat segera terdeteksi sehingga petugas dapat melakukan verifikasi dan penanganan lebih cepat sebelum api meluas menjadi kebakaran besar.

Pemanfaatan teknologi dinilai menjadi langkah penting mengingat luasnya kawasan hutan dan lahan di Kalimantan Timur yang tidak seluruhnya dapat dipantau secara langsung oleh personel di lapangan.

Selain membahas kesiapsiagaan menghadapi karhutla, Rakorda juga menyoroti dampak fenomena El Nino yang diperkirakan meningkatkan suhu udara, mengurangi curah hujan, dan memperpanjang musim kemarau di sejumlah wilayah Kalimantan Timur. Kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko munculnya titik api apabila tidak diantisipasi melalui mitigasi yang terencana.

Roganda mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar maupun melakukan aktivitas yang berpotensi memicu kebakaran. Ia juga mengajak masyarakat segera melaporkan apabila menemukan asap atau titik api agar penanganan dapat dilakukan sedini mungkin.

Partisipasi masyarakat, menurutnya, menjadi bagian penting dalam sistem pencegahan karena kebakaran yang diketahui lebih awal umumnya lebih mudah dikendalikan dibandingkan api yang telah meluas.

Bagi masyarakat, upaya pencegahan karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan aparat, tetapi juga membutuhkan kepedulian bersama. Kolaborasi lintas sektor, didukung pemanfaatan teknologi dan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk tidak membakar lahan, menjadi kunci dalam menjaga kualitas lingkungan, melindungi kesehatan warga, serta mengurangi risiko kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Timur.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....