SMPN 28 Samarinda Buktikan MBG Tak Matikan Kantin Sekolah

  • 01 Agt 2026 09:19 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kerap memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pengelola kantin sekolah. Tidak sedikit yang menilai kehadiran program tersebut akan mengurangi pembeli dan berdampak pada pendapatan pedagang kecil yang selama ini menggantungkan usaha di lingkungan sekolah.

Namun pengalaman berbeda justru dirasakan SMP Negeri 28 Samarinda. Sejak MBG mulai diterapkan pada pertengahan Juli 2026, aktivitas kantin sekolah tetap berjalan seperti biasa tanpa menimbulkan gejolak maupun keluhan dari para pedagang.

Kepala SMP Negeri 28 Samarinda, Agus, mengatakan sejak awal pihak sekolah telah menyiapkan pola pengelolaan agar Program Makan Bergizi Gratis dan kantin sekolah dapat berjalan berdampingan.

Menurutnya, keberadaan MBG tidak boleh dipandang sebagai pengganti seluruh kebutuhan konsumsi siswa selama berada di sekolah, melainkan sebagai pemenuhan gizi utama yang saling melengkapi dengan fungsi kantin.

"Alhamdulillah kantin tetap berjalan dan sampai sekarang belum ada yang menyampaikan keluhan," kata Agus kepada RRI.CO.ID, Sabtu 1 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, sekolah tidak membiarkan kantin bersaing secara langsung dengan menu MBG. Sebaliknya, pengelola kantin diarahkan menyediakan makanan dan minuman yang melengkapi kebutuhan peserta didik di luar menu utama yang diberikan pemerintah.

Selain itu, SMP Negeri 28 juga tetap mempertahankan konsep kantin sehat sebagai bagian dari pembiasaan pola hidup sehat di lingkungan sekolah.

"Kami menerapkan kantin sehat. Salah satunya dengan membatasi penjualan minuman yang terlalu banyak mengandung gula buatan," ujarnya.

Langkah tersebut, menurut Agus, merupakan bagian dari komitmen sekolah membangun lingkungan belajar yang mendukung kesehatan peserta didik. Selama ini sekolah juga rutin mendapatkan pendampingan dari Puskesmas Loa Bakung untuk memantau berbagai aspek kesehatan di lingkungan sekolah.

Di sisi lain, sekolah menyadari bahwa kantin juga menjadi sumber penghasilan masyarakat yang menjalankan usaha kecil di lingkungan pendidikan. Karena itu, keberadaan MBG harus dikelola secara bijaksana agar manfaat program nasional tetap dirasakan tanpa mengorbankan pelaku usaha lokal.

Menurut Agus, komunikasi dengan pengelola kantin dilakukan sejak awal pelaksanaan MBG sehingga seluruh pihak memahami peran masing-masing dalam mendukung kebutuhan siswa.

Pengalaman SMP Negeri 28 Samarinda menunjukkan bahwa kekhawatiran terhadap menurunnya aktivitas kantin tidak selalu terjadi. Dengan pengaturan yang baik, program pemenuhan gizi bagi siswa dapat berjalan beriringan dengan aktivitas ekonomi kecil yang selama ini tumbuh di lingkungan sekolah.

Model seperti ini dinilai dapat menjadi contoh bagi sekolah lain yang mulai menerapkan Program Makan Bergizi Gratis. Alih-alih menciptakan persaingan, sekolah justru berupaya membangun ekosistem yang saling mendukung, di mana program pemerintah meningkatkan kualitas gizi peserta didik, sementara kantin tetap memiliki ruang untuk melayani kebutuhan konsumsi siswa secara sehat dan bertanggung jawab.

Di tengah pelaksanaan MBG secara bertahap di berbagai daerah, pengalaman SMP Negeri 28 Samarinda memperlihatkan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari tersalurkannya makanan bergizi kepada siswa, tetapi juga dari kemampuan sekolah menjaga keseimbangan antara pelayanan pendidikan, kesehatan, dan keberlangsungan ekonomi masyarakat kecil yang menjadi bagian dari kehidupan sekolah.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....