Di Balik MBG, Koordinasi Sekolah dan Dapur Jaga Siswa Alergi Tetap Terlayani
- 04 Agt 2026 07:27 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya ditentukan oleh kualitas menu yang disajikan, tetapi juga oleh koordinasi yang baik antara sekolah dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sinergi tersebut menjadi kunci agar seluruh siswa, termasuk yang memiliki riwayat alergi makanan, tetap memperoleh asupan gizi yang aman dan sesuai dengan kondisi kesehatannya.
Penerapan itu terlihat di SMP Negeri 28 Samarinda. Setiap siswa yang memiliki alergi terhadap bahan makanan tertentu telah didata sejak awal sehingga menu yang diterima dapat disesuaikan tanpa mengurangi nilai gizinya.
Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 28 Samarinda sekaligus koordinator pelaksanaan MBG di sekolah, Nurul Hidayah, mengatakan komunikasi antara pihak sekolah dan dapur penyedia makanan berlangsung secara intensif sejak program berjalan.
"Kalau ada informasi apa pun, pihak dapur langsung menghubungi kami. Begitu juga kalau dari sekolah ada yang perlu disampaikan, kami langsung berkomunikasi. Alhamdulillah koordinasinya berjalan sangat baik," kata Nurul Hidayah kepada RRI.CO.ID, Selasa 4 Agustus 2026.
Menurutnya, salah satu bentuk koordinasi tersebut adalah pendataan siswa yang memiliki alergi terhadap makanan tertentu, seperti susu maupun tepung. Data tersebut kemudian menjadi acuan bagi dapur dalam menyiapkan menu pengganti.
"Anak-anak yang memiliki alergi memang sudah ada datanya. Dari dapur juga makanan mereka dipisahkan, sehingga saat pembagian kami tinggal menyalurkan sesuai daftar yang sudah ada," ujarnya.
Nurul menjelaskan, guru pendamping telah mengetahui identitas siswa yang membutuhkan menu khusus sehingga proses distribusi makanan di setiap kelas dapat berlangsung cepat dan tepat sasaran.
Model pelayanan tersebut dinilai penting karena kebutuhan gizi setiap anak tidak selalu sama. Penyesuaian menu bagi siswa dengan kondisi kesehatan tertentu menjadi bagian dari upaya memastikan seluruh peserta didik memperoleh manfaat program tanpa mengabaikan aspek keamanan pangan.
Di banyak sekolah, keberadaan siswa dengan alergi makanan kerap menjadi tantangan tersendiri dalam penyediaan konsumsi bersama. Tanpa sistem pendataan yang baik, risiko kesalahan distribusi dapat berdampak pada kesehatan peserta didik.
Pengalaman SMP Negeri 28 Samarinda menunjukkan bahwa keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya bergantung pada penyediaan makanan, tetapi juga pada tata kelola pelayanan yang rapi. Pendataan, komunikasi, dan koordinasi antara sekolah dengan dapur menjadi fondasi penting agar setiap anak memperoleh hak yang sama atas makanan bergizi sesuai kebutuhan kesehatannya. Model ini dapat menjadi praktik baik bagi pelaksanaan MBG di sekolah-sekolah lain di Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....