SMPN 28 Samarinda Buktikan MBG Tak Ganggu Belajar, Ini Strategi yang Diterapkan
- 01 Agt 2026 09:17 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Kekhawatiran bahwa Program Makan Bergizi Gratis (MBG) akan mengganggu kegiatan belajar mengajar ternyata tidak terbukti di SMP Negeri 28 Samarinda. Setelah hampir tiga pekan berjalan, sekolah justru menemukan pola distribusi yang membuat program nasional tersebut dapat berlangsung tertib tanpa mengurangi efektivitas pembelajaran di kelas.
Pengalaman itu menjadi salah satu contoh bahwa keberhasilan pelaksanaan MBG tidak hanya ditentukan oleh kualitas makanan, tetapi juga manajemen sekolah dalam mengatur waktu, koordinasi, serta pembagian tugas antarwarga sekolah.
Kepala SMP Negeri 28 Samarinda, Agus, mengaku pada awal pelaksanaan pihak sekolah sempat memiliki kekhawatiran tersendiri. Distribusi ratusan paket makanan setiap hari diperkirakan akan menyita waktu belajar, mengganggu konsentrasi siswa, bahkan menimbulkan persoalan baru di lingkungan sekolah.
Namun setelah dilakukan evaluasi sejak hari pertama pelaksanaan, sekolah memilih membangun sistem yang melibatkan seluruh unsur sekolah, mulai dari guru, tenaga kependidikan hingga pengurus Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS).
"Awalnya kami berpikir MBG ini akan sangat mengganggu proses belajar mengajar. Tetapi setelah semua guru dan tenaga kependidikan ikut mengatur, kemudian melibatkan anggota OSIS memantau ke kelas, alhamdulillah sampai sekarang berjalan aman dan nyaman," kata Agus kepada RRI.CO.ID, Sabtu 1 Agustus 2026.
Menurutnya, koordinasi menjadi faktor utama agar distribusi makanan tidak mengganggu aktivitas akademik. Sekolah juga menunjuk petugas khusus yang setiap hari berkomunikasi langsung dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) apabila terdapat kendala di lapangan.
Dengan pola komunikasi tersebut, berbagai persoalan teknis dapat segera diselesaikan tanpa harus berkembang menjadi polemik yang mengganggu pelayanan kepada siswa.
"Kami memang menugaskan satu orang khusus untuk berkomunikasi dengan pihak SPPG. Kalau ada hal-hal kecil, kami selesaikan bersama. Karena pada prinsipnya kami sama-sama bekerja untuk memberikan pelayanan terbaik kepada anak-anak," ujarnya.
Pendekatan tersebut juga diterapkan ketika sekolah mendata siswa yang memiliki alergi terhadap bahan makanan tertentu. Data kemudian disampaikan kepada pihak dapur sehingga menu dapat disesuaikan sebelum didistribusikan ke sekolah.
Agus menilai mekanisme itu menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG tidak hanya berorientasi pada pembagian makanan, tetapi juga memperhatikan kondisi kesehatan masing-masing peserta didik.
Selain menjaga kelancaran distribusi, SMP Negeri 28 Samarinda tetap mempertahankan keberadaan kantin sekolah. Menurut Agus, sejak awal sekolah tidak ingin program MBG justru mematikan usaha kecil yang selama ini menjadi bagian dari ekosistem sekolah.
Karena itu, kantin tetap beroperasi dengan konsep kantin sehat. Sekolah membatasi penjualan minuman dengan kadar gula tinggi dan terus mendorong penyediaan makanan yang lebih sehat bagi siswa.
"Alhamdulillah kantin tetap berjalan dan sampai sekarang belum ada keluhan. Yang penting kita atur agar semuanya bisa berjalan bersama," katanya.
Pengamatan pihak sekolah juga menunjukkan perubahan suasana belajar pada jam-jam terakhir. Jika sebelumnya sebagian siswa mulai kehilangan konsentrasi menjelang siang, kini mereka dinilai tetap mampu mengikuti pelajaran hingga waktu pulang.
Bagi Agus, perubahan tersebut menjadi indikator bahwa pemenuhan gizi di sekolah tidak hanya berkaitan dengan kesehatan anak, tetapi juga berdampak pada proses pembelajaran.
Keberhasilan SMP Negeri 28 Samarinda mengelola MBG menunjukkan bahwa program nasional tersebut memerlukan kesiapan manajemen di tingkat sekolah. Kolaborasi antara kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, OSIS, kantin, hingga penyedia makanan menjadi faktor penting agar pelayanan gizi dapat berjalan beriringan dengan kegiatan pendidikan.
Pengalaman ini juga menjadi pembelajaran bagi sekolah lain bahwa tantangan terbesar bukan sekadar membagikan makanan kepada siswa, melainkan membangun sistem yang mampu menjaga kualitas pembelajaran tanpa mengurangi tujuan utama program, yaitu meningkatkan kualitas gizi peserta didik.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....