Human Error Masih Jadi Penyebab Utama Kebakaran di Kota Samarinda

  • 22 Jul 2026 15:58 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Musim kemarau dengan suhu udara yang semakin tinggi menjadi perhatian serius berbagai pihak karena berpotensi meningkatkan risiko kebakaran, baik di kawasan permukiman maupun lahan terbuka. Kondisi cuaca yang kering membuat api lebih mudah muncul dan cepat menyebar, sehingga masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan melalui langkah-langkah pencegahan sejak dini.

Kondisi ini menjadi topik yang dibahas dalam dialog Program Kentongan RRI Pro 1 Samarinda, Selasa, 21 Juli 2026, yang mengangkat tema "Kemarau Panas, Jangan Lengah terhadap Bahaya Kebakaran". Hadir sebagai narasumber Kepala Bidang Pemadaman dan Penyelamatan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmat) Kota Samarinda, Akhmad Supriyanto, yang mengajak masyarakat menjadikan budaya pencegahan sebagai langkah utama menghadapi musim kemarau.

Menurut Akhmad Supriyanto, musim kemarau menyebabkan suhu udara meningkat dan kelembapan menurun sehingga material yang mudah terbakar, seperti rumput kering, dedaunan, sampah, hingga bangunan tertentu, menjadi lebih rentan memicu kebakaran. Meski faktor alam sulit dihindari, sebagian besar kejadian kebakaran justru dipicu oleh kelalaian manusia atau human error yang sebenarnya dapat dicegah.

Berdasarkan pengalaman penanganan di Kota Samarinda, kebakaran permukiman masih didominasi oleh korsleting listrik, kebocoran tabung maupun selang gas LPG, serta kelalaian saat menggunakan kompor. Sementara itu, kebakaran lahan banyak dipicu aktivitas pembakaran sampah, pembukaan lahan dengan cara membakar, hingga puntung rokok yang dibuang sembarangan di area yang kering.

"Musim kemarau membuat suhu udara meningkat dan kelembapan menurun sehingga api lebih mudah muncul dan cepat menyebar. Karena itu kami mengimbau masyarakat untuk selalu waspada dan mengutamakan langkah-langkah pencegahan agar kebakaran tidak terjadi," ujar Akhmad Supriyanto.

Ia menjelaskan, upaya sederhana yang dapat dilakukan masyarakat antara lain memeriksa instalasi listrik secara berkala, menghindari penggunaan stop kontak secara berlebihan, memastikan kompor beserta regulator dan selang gas dalam kondisi baik, serta mencabut peralatan listrik yang tidak digunakan. Langkah-langkah kecil tersebut dinilai mampu mengurangi risiko munculnya percikan api yang berpotensi memicu kebakaran.

Selain itu, Disdamkarmat Kota Samarinda terus menggencarkan edukasi kepada masyarakat melalui sosialisasi di lingkungan permukiman, sekolah, hingga dunia usaha. Masyarakat juga didorong memiliki Alat Pemadam Api Ringan (APAR) yang memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI) agar kebakaran berskala kecil dapat segera ditangani sebelum membesar dan membahayakan lingkungan sekitar.

Dalam dialog tersebut, Akhmad juga menyoroti masih adanya kebiasaan masyarakat yang berkerumun di lokasi kebakaran hingga menghambat proses pemadaman. Menurutnya, saat terjadi kebakaran, petugas membutuhkan ruang gerak yang cukup agar proses penyelamatan dan pemadaman dapat berlangsung cepat dan aman. Karena itu, kesadaran masyarakat untuk tidak menjadikan kebakaran sebagai tontonan perlu terus ditingkatkan.

Di sisi lain, masyarakat juga diminta tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi mengenai kebakaran. Laporan palsu atau hoaks tidak hanya menghambat pelayanan, tetapi juga menguras waktu dan tenaga petugas yang harus selalu siaga merespons setiap laporan darurat.

"Pencegahan jauh lebih penting daripada penanganan. Periksa instalasi listrik secara berkala, jangan membakar sampah di lahan terbuka, pastikan kompor dan regulator gas aman, sediakan APAR di rumah, dan segera laporkan apabila menemukan kebakaran melalui call center agar penanganan bisa dilakukan secepat mungkin," ucap Akhmad Supriyanto.

Ia menambahkan, masyarakat dapat melaporkan kejadian kebakaran maupun kondisi darurat lainnya melalui Call Center Disdamkarmat Kota Samarinda di 0812-5525-1333 atau layanan darurat 112. Dengan dukungan 11 pos pemadam yang tersebar di Kota Samarinda, laporan masyarakat akan segera diteruskan ke posko terdekat untuk mempercepat respons di lapangan.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, petugas pemadam, relawan, dan masyarakat, budaya kesiapsiagaan diharapkan semakin kuat di tengah musim kemarau. Dengan meningkatkan kewaspadaan, menghindari tindakan yang berisiko memicu api, serta segera melaporkan setiap kejadian darurat, potensi kebakaran dapat ditekan sehingga keselamatan jiwa, harta benda, dan lingkungan tetap terjaga.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....