Dari Sabut Kelapa, UMKM Samarinda Tembus Pasar IKN dan Kaltim
- 22 Jun 2026 15:30 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Di tengah pesatnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) dan meningkatnya kebutuhan penghijauan di Kalimantan Timur, permintaan terhadap media tanam dan pupuk organik terus bertumbuh. Peluang tersebut berhasil ditangkap oleh pelaku usaha mikro di Samarinda, Rini Wati, yang mengembangkan produk cocopeat dan cocofiber berbahan dasar limbah sabut kelapa hingga menembus pasar berbagai daerah, termasuk kawasan IKN.
Usaha yang dijalankan Rini Wati di Jalan MT Haryono, Samarinda, menjadi contoh bagaimana limbah pertanian yang selama ini dianggap tidak bernilai dapat diubah menjadi komoditas ekonomi yang dibutuhkan sektor pertanian, perkebunan, hingga penghijauan kawasan perkotaan.
Cocopeat merupakan serbuk halus hasil pengolahan sabut kelapa yang memiliki kemampuan menyimpan air lebih tinggi dibanding tanah biasa. Sementara cocofiber atau serat kelapa banyak dimanfaatkan sebagai media tanam, penahan erosi, hingga kebutuhan lanskap. Di tengah tren pertanian ramah lingkungan, kedua produk tersebut semakin diminati karena dinilai lebih berkelanjutan dibanding media tanam konvensional.
"Kami lebih menonjolkan cocopeat sama cocofiber dari limbah kelapa. Cocopeat ini daya serap airnya lebih banyak sehingga sangat baik digunakan sebagai media tanam," kata Rini Wati kepada rri.co.id, Senin 22 Juni 2026.
Menurutnya, perkembangan pasar dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Produk yang awalnya hanya dipasarkan di sekitar Samarinda kini telah menjangkau Balikpapan, Bontang, Sangatta, Tenggarong, hingga sejumlah konsumen yang terlibat dalam kebutuhan penghijauan dan penataan kawasan di IKN.
"Alhamdulillah pasar kami sudah sampai Balikpapan, Bontang, Sangatta, Tenggarong. Untuk kebutuhan IKN juga pernah melakukan pemesanan produk kami," ujarnya.
Fenomena tersebut mencerminkan semakin besarnya kebutuhan media tanam organik di Kalimantan Timur. Pembangunan kawasan permukiman baru, ruang terbuka hijau, hingga program penghijauan perusahaan dan instansi pemerintah menciptakan pasar yang terus berkembang bagi pelaku usaha berbasis lingkungan.
Tidak hanya mengandalkan cocopeat, usaha yang dirintis Rini juga memproduksi berbagai kebutuhan pertanian lainnya seperti sekam bakar, pupuk kandang fermentasi, tanah topsoil, tanah gambut, hingga campuran media tanam siap pakai. Diversifikasi produk ini menjadi strategi untuk menjawab kebutuhan pasar yang semakin beragam.
Dari sisi ekonomi, usaha tersebut mampu menghasilkan omzet lebih dari Rp20 juta per bulan. Angka itu berasal dari penjualan berbagai produk organik yang dipasarkan kepada masyarakat umum, kelompok tani, perusahaan, hingga instansi pemerintah.
"Kalau untuk omzet, alhamdulillah sudah mencapai Rp20 juta lebih per bulan dari berbagai produk yang kami produksi," ucapnya.
Pengembangan usaha berbasis limbah organik juga menjadi bagian dari upaya mendorong ekonomi sirkular, yakni memanfaatkan kembali limbah menjadi produk bernilai tambah. Di tengah isu lingkungan dan pengelolaan sampah yang semakin mendapat perhatian, model usaha seperti ini dinilai memiliki prospek jangka panjang yang menjanjikan.
Bagi Rini Wati, peluang terbesar bukan hanya pada peningkatan penjualan, tetapi juga perubahan cara pandang masyarakat terhadap limbah. Sabut kelapa yang sebelumnya hanya dibakar atau dibuang kini dapat menjadi produk bernilai ekonomi sekaligus mendukung pertanian yang lebih berkelanjutan.
Dengan pembangunan IKN yang masih terus berlangsung dan meningkatnya kebutuhan penghijauan di Kalimantan Timur, permintaan terhadap produk media tanam organik diperkirakan akan terus bertambah. Kondisi tersebut membuka peluang bagi pelaku UMKM lokal untuk mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok pembangunan berkelanjutan di daerah.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....