Usaha Cocopeat Samarinda Raup Pasar Luas hingga Proyek IKN

  • 22 Jun 2026 15:21 WIB
  •  Samarinda

RRI.CO.ID, Samarinda – Inovasi pengolahan limbah sabut kelapa di Kota Samarinda berkembang menjadi peluang ekonomi baru melalui usaha “Cocopeat Puncak” yang digagas Ibu Rini Wati. Produk berbasis limbah organik tersebut kini tidak hanya menjadi media tanam alternatif, tetapi juga bagian dari rantai pasok pertanian ramah lingkungan di Kalimantan Timur hingga mendukung kebutuhan kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Usaha yang berlokasi di Jalan MT Haryono itu mulai dirintis sejak 2020 dengan modal awal sekitar Rp10 juta. Dengan memanfaatkan mesin penggiling, limbah kelapa diolah menjadi cocopeat, cocofiber, serta campuran pupuk organik yang memiliki nilai tambah ekonomi lebih tinggi dibandingkan bahan baku awalnya.

Dalam proses produksi, sabut kelapa dipisahkan menjadi serat dan serbuk halus yang kemudian difermentasi untuk menghasilkan media tanam siap pakai. Produk tersebut dikenal mampu menyerap air lebih baik serta memperbaiki struktur tanah sehingga lebih gembur dan mudah menyerap nutrisi.

Ibu Rini Wati menyebut, usaha yang dijalankannya berangkat dari proses panjang dan pengalaman mencoba berbagai jenis usaha sebelumnya. Namun, ia akhirnya fokus pada pengolahan limbah organik karena dinilai memiliki prospek yang lebih berkelanjutan.

“Kami sudah bergelut di bidang cocopeat ini, pupuk organik itu sudah 7 tahun, kami lebih menonjolkan cocopeat dan cocofiber dari limbah kelapa,” ujar Ibu Rini Wati kepada rri.co.id Senin 22 Juni 2026.

Ia menjelaskan, mesin pengolahan menjadi kunci utama dalam proses produksi yang mampu memisahkan bahan baku menjadi beberapa jenis produk turunan. Hasilnya tidak hanya cocopeat, tetapi juga cocofiber dan berbagai media tanam lain yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar.

“Di sini kita masukkan satu per satu limbah kelapa sehingga menjadi dua bagian, satu coco fiber dan satu cocopeat yang murni,” katanya.

Dari sisi pemasaran, produk Cocopeat Puncak telah menjangkau berbagai daerah di Kalimantan Timur seperti Balikpapan, Bontang, Sangatta, dan Tenggarong. Selain pasar rumah tangga, produk ini juga digunakan oleh pelaku usaha pertanian hingga kebutuhan proyek berskala besar.

“Alhamdulillah, kita sudah menjangkau Balikpapan, Bontang, Sangatta, Tenggarong, semua sudah masuk pasar kami, termasuk juga permintaan untuk IKN,” ucapnya.

Dalam skala produksi, usaha ini mampu mengolah hingga dua ton limbah kelapa setiap bulan. Produk yang dihasilkan dijual dengan harga terjangkau, seperti cocopeat kemasan 2,5 kilogram seharga sekitar Rp15 ribu dan sekam bakar dalam kemasan 10 kilogram sekitar Rp12 ribu.

Permintaan yang terus meningkat membuat usaha ini turut menyuplai kebutuhan berbagai segmen, mulai dari individu, pelaku usaha, hingga institusi. Bahkan, pengiriman dalam jumlah besar pernah dilakukan untuk kebutuhan proyek media tanam di kawasan IKN dengan volume ratusan hingga mendekati seribu paket.

Ibu Rini menilai, peluang pengembangan usaha berbasis limbah organik masih sangat terbuka seiring meningkatnya kesadaran terhadap pertanian berkelanjutan. Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah menjaga konsistensi produksi dan memperluas jaringan pasar.

“Kami akan terus belajar dan berkembang, karena tidak ada usaha yang sia-sia kalau kita mau berproses,” ujarnya.

Ke depan, ia berharap produk berbasis cocopeat dapat menembus pasar yang lebih luas, termasuk ekspor, seiring meningkatnya kebutuhan media tanam ramah lingkungan di tingkat global.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....