Penjualan Menurun, Pedagang Bendera di Samarinda Akui Pernah Raup Rp10 Ribu Sehari
- 10 Agt 2026 13:39 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda – Jelang HUT ke-81 Kemerdekaan RI, pedagang bendera mulai memenuhi sejumlah ruas jalan di Samarinda. Namun, di balik ramainya atribut merah putih, ada cerita pahit pedagang yang harus menghadapi penjualan daring.
Salah satunya Rizki, pedagang bendera di kawasan depan Stadion Kadrie Oening, Sempaja. Warga asal Bandung, Jawa Barat, itu mulai berjualan sejak 16 Juli 2026 dan telah dua tahun mencari penghasilan dari berjualan bendera di Samarinda.
Beragam ukuran bendera ditawarkan, mulai dari ukuran kecil untuk ditempel di kendaraan hingga ukuran besar yang biasa digunakan sebagai latar perayaan kemerdekaan. Harga yang dipatok pun bervariasi, mulai Rp10 ribu hingga Rp400 ribu.
Menurut Rizki, ukuran 90 sentimeter hingga 1,5 meter menjadi produk yang paling banyak dicari pembeli. “Ada yang kecil untuk ditempel di kaca, buat di motor, ada juga paling besar untuk background. Paling banyak dicari sih yang 90 cm dan satu meter setengah,” ucap Rizki kepada rri.co.id, Minggu (9/8/2026).
Bendera tersebut didatangkan langsung dari sentra produksi di Kecamatan Leles, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Rizki menyebut sebagian pedagang bendera lainnya di kawasan Gor Sempaja juga memperoleh barang dari wilayah yang sama.
Namun, di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap atribut kemerdekaan, Rizki justru mengaku penjualannya dalam dua tahun terakhir mengalami penurunan signifikan. “Menurun signifikan. Ya karena ada yang jualan di online,” katanya.
Dampaknya terlihat dari omzet harian yang sangat fluktuatif. Ketika kondisi ramai, Rizki mampu mengantongi sekitar Rp1 juta dalam sehari. Namun, pada hari sepi, pendapatannya bisa jatuh sangat rendah. “Kadang bisa sampai Rp1 juta per hari, kadang kurang, kadang juga lebih. Pernah kita dapat Rp10 ribu per hari,” ujarnya.
Kondisi tersebut menunjukkan persaingan pedagang bendera konvensional semakin berat. Selain harus menunggu pembeli datang langsung, mereka juga berhadapan dengan penjual yang menawarkan produk serupa melalui platform daring.
Meski demikian, Rizki belum berniat meninggalkan lapak pinggir jalan dan beralih sepenuhnya ke penjualan online. Menurutnya, berjualan secara daring membutuhkan tambahan modal untuk mendukung operasional usaha.
Ia memilih tetap mengandalkan pembeli yang datang langsung, sembari berharap permintaan meningkat ketika peringatan HUT ke-81 RI semakin dekat.
Rizki berharap momentum kemerdekaan tahun ini mampu kembali mendongkrak penjualan dan membuat pendapatannya lebih baik dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Di tengah gemuruh perayaan kemerdekaan dan menjamurnya penjualan atribut merah putih secara daring, pedagang seperti Rizki masih bertahan di pinggir jalan, berharap semarak 17 Agustus ikut menghidupkan kembali omzet mereka.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....