Psikiater BNN Samarinda Soroti Pergeseran Adiksi di Era Digital
- 12 Mei 2026 14:12 WIB
- Samarinda
RRI.CO.ID, Samarinda - Tren penggunaan narkoba di Kota Samarinda disebut mengalami penurunan. Namun, di balik kondisi tersebut muncul pergeseran pola adiksi masyarakat ke bentuk nonzat seperti game online, pornografi, hingga ketergantungan media sosial.
Psikiater BNN Kota Samarinda, Candra Ramadhanny, menilai perubahan pola kecanduan itu dipengaruhi perkembangan dunia digital, algoritma media sosial, hingga tren gaya hidup yang terus dibentuk melalui konten dan propaganda visual.
Ia mengatakan media sosial memiliki pengaruh besar terhadap psikologi generasi muda, terutama melalui budaya validasi digital dan persaingan popularitas.
“Kita diberikan kesempatan untuk centang biru, dibikin berlomba-lomba bikin konten supaya banyak follower. Itu sudah mempengaruhi psikologi bawah sadar kita, yang berhasil itu yang banyak pengikutnya, yang centang biru, yang ramai,” ujarnya dalam obrolan SPADA dikutip Selasa, 12 Mei 2026.
Menurutnya, kondisi tersebut memicu rasa tertinggal atau fear of missing out (FOMO) di kalangan anak muda saat tidak mengikuti tren digital. “Kalau enggak ramai itu rasanya ketinggalan. Rasa tertinggal itu nyata dialami generasi muda,” katanya.
Ia menilai langkah sebagian masyarakat yang mulai membatasi penggunaan media sosial menjadi respons positif terhadap tekanan digital. “Bagus ada sebagian yang memilih off sosial media, membatasi sosial media, kemudian enggak sering posting. Itu bagian dari reaksi yang bagus,” ucapnya.
Candra mencontohkan pola propaganda digital saat ini memiliki kemiripan dengan strategi iklan rokok pada masa lalu. Menurutnya, citra maskulinitas sengaja dibangun melalui tampilan visual dan gaya hidup tanpa ajakan langsung.
“Dulu rokok itu enggak ada ngomong ayo kita merokok. Tapi dibikin iklan rokok itu maskulin. Naik mobil mewah, pakai jas laki-laki. Ditampilkan, dicitrakan yang merokok itu maskulin, keren,” ujarnya.
Ia menyebut pola serupa kini berkembang luas melalui media sosial dan tren digital yang memengaruhi alam bawah sadar masyarakat. “Lama-lama bawah sadar terbentuk kalau enggak merokok itu enggak maskulin. Itu berhasil. Sekarang bukan cuma rokok, hal lain juga dipropagandakan macam-macam,” ujarnya.
Karena itu, masyarakat diminta lebih kritis menyikapi tren dan konten yang muncul di media sosial. “Kita harus sampai ke level meta awareness. Semua ini ada sesuatu di balik itu yang dibuat tren,” katanya.
Candra Ramadhanny juga menyoroti penurunan penggunaan narkoba di Samarinda tidak sepenuhnya menandakan masalah adiksi selesai. Menurutnya, terjadi pergeseran bentuk kecanduan dari penggunaan zat menuju adiksi nonzat seperti game online, pornografi, media sosial, hingga layanan digital lainnya.
Ia menilai perilaku adiktif di masyarakat tetap muncul, hanya berpindah objek dari narkoba ke bentuk ketergantungan lain. Pergeseran tersebut terjadi setelah penggunaan narkoba diperketat, sehingga kecanduan beralih ke aktivitas digital dan pola perilaku lain yang memicu sistem reward di otak.
Candra menjelaskan akar utama adiksi berasal dari ketidakmampuan seseorang menghadapi emosi tidak nyaman seperti sedih, sepi, kecewa, atau tekanan hidup. Kondisi itu membuat sebagian orang mencari pelarian instan untuk menutupi emosi yang dirasakan.
Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diminta lebih kritis menyikapi tren digital dan algoritma media sosial. Menurutnya, banyak platform digital sengaja dirancang menciptakan ketergantungan pengguna melalui sistem reward, interaksi, hingga tren yang terus dibentuk di media sosial dan permainan daring.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....